Adalah sebuah luka saat kata-kata perpisahaan itu kau ucapkan. Kala itu aku sama sekali tak dapat merasakan hal yang romantis walau matahari teleh berada di tempat yang paling dasar. Membiarkan cahayanya keemasan dan menerpa raut wajahku yang kurasa pastilah muram.
“Mengertilah, aku juga tak ingin hal ini terjadi,” begitulah kau berujar.
Ah, perempuan hingga saat ini aku belum juga dapat mengerti. Mengapa begitu mudah kalian mengikuti perasaan kalian daripada berpikir dengan nalar dan logika tentang konsekuensi apa yang akan timbul.
“Perpisahaan ini harus, Ger. Aku tak ingin saling menyakiti tanpa henti,” katamu lagi.
Kau terus menerus berujar. Entah apalah semacamnya yang mungkin saja kau ucapkan. Sesekali suaramu menghilang dan aku hanya mendengar kata hatiku yang berbicara. Tahukah kau, sebenarnya terlalu banyak hal yang inginku utarakan. Namun, aku hanya memilih diam. Membiarkanmu berbicara semaumu. Membiarkanmu berusaha semaksimal usaha yang kau miliki. Usaha untuk membuat aku mengerti tentang perpisahan ini. Namun entahlah, kurasa usahamu sia-sia belaka. Salahmu membiarkan benih kasih sayang itu tumbuh dengan akar yang begitu kuat. (lagi…)