Waktu sudah terlalu tua saat kutemukan seulas senyuman tergantung pada sebuah jendela

Kurasa kau akan menyergap dari balik pintu tertutupi tirai kabut yang telah lama kita nantikan

Lalu aku hanya perlu mengurung senyuman itu dalam sebuah lemari kaca

Sambil mengepak semua langkahmu dalam peti tua yang tak bisa lagi dibuka

Seperti cerita cinta klise atau dongeng-dongeng kuno

Yang ditakdirkan terlupa saat kita memejamkan mata dan terbangun pada satu pagi yang tak lagi sama

(lagi…)

IMG_0786Dari sudut pandang Septri Lediana

Matahari terlalu garang siang itu, Kamis (7/5). Beberapa kru Komunitas Lampu Pijar (KLP)  duduk di depan kantor jurusan Bahasa dan Sastra Inggris sambil menyandang tas ransel yang menggembung pertanda terlalu banyak memuat isi. Sambil menahan gerah kami menghibur diri dengan canda seadanya yang mengundang tawa. Waktu itu sudah 2 jam berlalu dari pukul 12 siang, waktu yang disepakati semua kru KLP untuk berkumpul di depan kantor Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Namun, dari 10 orang kru, baru beberapa orang kru saja yang sudah berada di tempat. Padahal rencana awal, paling tidak pukul 1 siang, kru KLP sudah meluncur ke Bukittinggi untuk syuting film La Mannequin. Masalah perkuliahan, pekerjaan atau aktivitas organisasi lainnya menjadi alasan yang tak pantas disalahkan, mengingat beberapa kru KLP tentulah memiliki kesibukan masing-masing di luar KLP. Berbagai hambatan pun terkadang datang tak terduga. Tak terelakkan susunan jadwal syuting selama tiga hari di Bukittinggi pun sedikit terganggu.

Waktu terus bergerak, beberapa kru yang ditunggu satu per satu berdatangan. Hanya satu dua orang kru saja yang belum datang. Kru KLP pun memutuskan untuk beranjak dari depan kantor jurusan Bahasa dan Sastra Inggris  menuju terminal travel dan sepakat menunggu kru yang belum datang di sana. Dengan menyandang ransel masing-masing kru beranjak menunggu angkutan kota (angkot) di pinggir jalan. Lama menunggu, angkot tak juga kunjung datang. Kru KLP pun menyadari tak satu pun angkot yang lewat.  Kemudian barulah diketahui,  para supir angkot berdemo menolak larangan penggunaan cutting stiker. Tak ada satu pun angkot beroperasi hari itu yang bisa mengantarkan kru KLP  ke terminal travel. (lagi…)

IMG_0926Dari sudut pandang Septri Lediana

Untuk semua kru KLP segera kumpul di kampus. Segera !!!

Pesan singkat itu dikirimkan dari telepon seluler sutradara La Mannequin, Arif Rizki ke semua kru KLP. Pesan yang menyiratkan kegentingan yang teramat sangat. Sontak hampir semua kru yang menerima pesan singkat itu panik. Bagaimana tidak, sehari menjelang keberangkatan ke Bukittinggi untuk syuting film perdana yang digarap komunitas Lampu Pijar (KLP) berjudul “La Mannequin” tentulah membuat semua kru harap-harap cemas. Semua rencana dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan syuting film tersebut sudah siap. Semua kru, aktor dan aktris pun telah sepakat kamis (7/5) syuting akan dimulai di Bukittinggi. Tak satu hal pun yang masih belum jelas kecuali kamera yang akan digunakan untuk syuting. Kecemasan melanda, bagaimana syuting film bisa dilaksanakan tanpa peralatan yang bisa dikatakan adalah peralatan yang paling penting.

Awalnya, kru KLP yakin tak akan ada halangan dalam peminjaman kamera milik Fakultas Bahasa, Sastra, dan Seni (FBSS) Universitas Negeri Padang (UNP) itu. Semua prosedur peminjaman kamera telah diikuti dengan benar. Beberapa paraf pejabat fakultas yang dibutuhkan untuk keperluan memenuhi sistem birokrasi pun telah dipenuhi. Dalam pikiran semua kru KLP, sudah dapat diartikan kamera telah ada di tangan. Hanya tinggal diambil saja ke bagian yang berwenang dengan menunjukkan surat yang telah diparaf. (lagi…)

cappucino-1

Dari dulu aku telah membayangkan hal ini akan terjadi. Bukannya aku mengharapkannya. Namun, karena atas dasar ketakutan yang sangatlah yang membuatku acap kali membayangkan hal ini akan terjadi. Atau bisa jadi karena ia sangat mungkin menjadi sebuah fakta, maka aku merasa ia pasti terjadi. Namun, sungguh aku tak menyangka ia akan terjadi secepat ini dan di penghujung siang hari yang begitu indah itu.

Hari itu hari yang tidak cerah. Musim penghujan telah tiba dan menghalangi kecerahan langit dengan awan-awan hitam. Namun, tidak bagiku. Hari itu sangat cerah karena semua senyum dan sikap manismu. Ah, ternyata harus kuakui juga bahwa perempuan memang sangat mudah ditaklukan dengan sikap manis.

Tidaklah berlebihan jika kukatakan waktu berjalan begitu cepat jika dilewati bersamamu. Kita tak menyadari telah melahap berjam-jam berdua. Mengobrol dan bercanda tawa seadanya namun membuat bahagia yang sulit kugambarkan. Apakah aku yang telah terlalu lama kering akan semua sikap manis, atau kau yang memang pandai menalukkan hati perempuan. Yang kutahu tak ada celah dari perbincangan dan canda tawa kita untuk jeda rasa bosan mampir dan mengungkapkan : kita telah terlalu lama berdua. (lagi…)

darah-di-telapak-tanganku Aku seolah melihat lumuran darah di telapak    tanganku. Darah segar yang begitu merah. Aku berlari beranjak dari tempat tidur, berlari menuju kamar mandi. Air mengalir deras dari keran langsung membasuh tanganku. Kecemasan menyeruak hebat. Ada apa dengan tanganku? Apakah tanganku terluka? Tapi kenapa tak ada sedikit pun rasa sakit. Mengapa darah segar itu begitu banyak, hingga menetes ke lantai sejak Aku berlari dari tempat tidur menuju kamar mandi. Ku teneliti setiap inci telapak tanganku. Tak ada luka, tergores pun tidak. Dari mana asal muasal darah itu? Apa yang Aku lakukan ketika tidur, hingga tanganku berlumuran darah sebanyak itu?

Aku berjalan lagi menuju ke tempat tidur. Kuperhatikan lantai yang kulalui tadi. Aneh, tak ada sebercak noda darah pun. Padahal Aku yakin sekali, darah telah menetes dari tanganku. Ah, ada apa ini? Tunggu dulu darahnya pasti akan tertinggal di selimut. Aku mengamati setiap bagian selimut. Tak mempedulikan istriku yang tidur terlelap dengan perutnya yang buncit. Namun, usahaku sia-sia, tak sedikit pun noda darah pada selimut. Padahal Aku yakin sekali telah menyisihkan selimut itu dengan tanganku seraya beranjak menuju kamar mandi tadi. (lagi…)

pada-sebuah-pantaiAdalah sebuah luka saat kata-kata perpisahaan itu kau ucapkan. Kala itu aku sama sekali tak dapat merasakan hal yang romantis walau matahari teleh berada di tempat yang paling dasar. Membiarkan cahayanya keemasan dan menerpa raut wajahku yang kurasa pastilah muram.

“Mengertilah, aku juga tak ingin hal ini terjadi,” begitulah kau berujar.

Ah, perempuan hingga saat ini aku belum juga dapat mengerti. Mengapa begitu mudah kalian mengikuti perasaan kalian daripada berpikir dengan nalar dan logika tentang konsekuensi apa yang akan timbul.

“Perpisahaan ini harus, Ger. Aku tak ingin saling menyakiti tanpa henti,” katamu lagi.

Kau terus menerus berujar. Entah apalah semacamnya yang mungkin saja kau ucapkan. Sesekali suaramu menghilang dan aku hanya mendengar kata hatiku yang berbicara. Tahukah kau, sebenarnya terlalu banyak hal yang inginku utarakan. Namun, aku hanya memilih diam. Membiarkanmu berbicara semaumu. Membiarkanmu berusaha semaksimal usaha yang kau miliki. Usaha untuk membuat aku mengerti tentang perpisahan ini. Namun entahlah, kurasa usahamu sia-sia belaka. Salahmu membiarkan benih kasih sayang itu tumbuh dengan akar yang begitu kuat. (lagi…)

menyembuhkan-lukaDemokrasi, sebuah alat yang katanya dapat membuat kita meraih tujuan untuk mewujudkan rakyat yang makmur sejahtera. Salah satu sistemnya: pengalihan hak untuk memilih pemimpin dari tangan penguasa yang otoritas ke tangan rakyat. Dengannya diharapkan akan memudahkan untuk mencapai tujuan tadi. Disinyalir rakyat akan tahu dan memilih mereka yang dianggap mampu menyususun strategi dan mengarahkan untuk mewujudkan tujuan.
Tujuan mewujudkan masyarakat yang sejahtera, dengan demokrasi sebagai alat, semua baru akan dapat tercapai ketika masyarakat seluruh Indonesia, tanpa terkecuali (termasuk pemerintah) mampu menjalankan sistem itu bukan hanya sekedar menjalankan. Namun, menjadikannya hal penting yang harus dijalankan dengan sesempurna-sempurnanya, dengan perhatian yang maksimal dan seksama.
Inilah yang agaknya perlu kembali diendapkan dalam diri dan diapresasikan dengan tindakan, mengingat pemilu menanti di kamis tanggal 9 ini, mengingat berpuluh-puluh partai dengan seabrek kandidat untuk berbagai macam tujuan kursi kelembagaan dan jenjang kursi pemerintahan menanti dicontreng dan membujuk dengan berbagai cara. Mereka teramat menyadari suara kita teramat berharga, sedang kita menganggapnya biasa saja. ada pula yang menganggap terlalu berharga dan tak rela memberikannya.ditutupi rasa muak, bosan dan tak bisa lagi mencoba untuk percaya. (lagi…)

tentara“Ayah, kalau sudah besar nanti aku mau jadi tentara,”
“Ayah pasti akan bangga melihat aku berseragam loreng, kan? Apalagi ditambah dengan senapan,”
Rohmin memilih diam mendengar ocehan anak semata wayangnya yang baru berusia 8 tahun itu. Bukan pertama kalinya, Sardi menuturkan cita-citanya menjadi tentara. Hampir setiap kali ia melihat tentara, entah itu di TV ataupun ketika berpapasan di jalan. Sardi selalu berkata :
“Ayah, kapan aku bisa seperti itu,”
“Ayah, Aku mau secepatnya jadi tentara,”
Setiap kali Sardi mengatakan hal itu, Rohmin hanya mengangguk. Sesekali ia pun sekedar berkata:
“Kau harus rajin belajar biar pintar dan rajin makan biar cepat besar. Nanti kalau sudah besar dan pintar baru jadi tentara,”
Sardi selalu mengangguk dengan kesungguhan, tiap kali mendengar nasehat ayahnya yang berkaitan dengan cita-citanya menjadi tentara. Secara tak langsung pun, istri Rohmin, Nuri menemukan cara ampuh untuk memaksa Sardi, bila sudah putus asa apabila Sardi tidak ingin makan. Nuri akan berkata:
“Katanya mau jadi tentara. Tentara itu harus kuat. Mana bisa kuat kalau tidak makan,” (lagi…)

Puluhan bangkai anjing berserakan di anatara pepohonan di hutan itu. Baunya menyengat hingga ke perbatasan hutan dan desa kecil yang berada tak jauh dari sana. Penduduk desa kehilangan akal untuk menghindari bau yang sangat menyiksa itu. Menimbulkan rasa mual yang tak tertahankan. Tak seorang pun tahu sejak kapan bangkai itu ada di sana. Hingga saat bau itu sampai ke desa barulah penduduk desa tahu bahwa berpuluh-puluh bangkai anjing bergelimpangan di antara pohon-pohon besar di hutan itu. Memberikan panorama yang sangat tak biasa.

Kebanyakan pendduduk yang penasaran pernah datang untuk melihatnya. Bahkan pernah berpikir untuk menguburkannya. Namun, Selalu saja niat itu gagal. Bangkai-bangkai yang mati dengan penyebab yang tak pernah diketahui itu hingga berhari-hari, berminggu-minggu tetap saja berada di sana. Tak seorang pun bersedia menguburkan atau membakar bangkai-bangkai anjing itu. Entah karena jumlahnya yang terlalu banyak atau rupa bangkai itu yang terlalu menyeramkan. Penduduk yang pulang dari melihat bangkai-bangkai anjing itu pulang dengan ekspresi kosong hingga berhari-hari. Sudah sebulan bangkai itu tetap di sana. Baunya semakin menyengat, bahkan mengakibatkan tak ada lagi penduduk yang mendaci kayu bakar ke hutan. (lagi…)

cecilia-dan-malaikat-arielJudul Buku : Cecilia dan Malaikat Ariel
Pengarang : Jostein Gaarder
Penerbit : PT. Mizan Pustaka
Cetakan : I Desember 2008
Tebal buku : 210 halaman

Jostein Gaarder, penulis novel filsafat Dunia Sophie muncul lagi dengan karya baru. Jostein yang melambungkan namanya dengan novel Diunia Sophie yang hingga sekarang telah terjual lebih dari 30 juta kopi di seluruh dunia. Novel Dunia Sophie ini pun menjadi buku pengantar filsafat di berbagai universitas di dunia. Sejak itulah dosen filsafat ini terus meluncurkan buku baru yang bisa dikatakan berpijak apda tema yang sama : filsafat. Novel Cecilia dan Malaikat Ariel adalah novel keempatnya setelah Dunia Sophie, Bibbi Bokken dan Maya.
Sama dengan beberapa novel sebelumnya, novel Cecilia dan Malaikat Ariel juga berkaitan dengan filsafat. Melalui Novel ini, Jostein ingin menyampaikan bagaimana hubungan Manusia, Tuhan dan Malaikat dipandang dari kaca mata filsafat. Bagaimana Tuhan mengatur kehidupan, bagaimana pula manusia dan malaikat itu memiliki banyak perbedaan dan mereka menjalani kehidupan masing-masing. (lagi…)

Halaman Berikutnya »