tentara“Ayah, kalau sudah besar nanti aku mau jadi tentara,”
“Ayah pasti akan bangga melihat aku berseragam loreng, kan? Apalagi ditambah dengan senapan,”
Rohmin memilih diam mendengar ocehan anak semata wayangnya yang baru berusia 8 tahun itu. Bukan pertama kalinya, Sardi menuturkan cita-citanya menjadi tentara. Hampir setiap kali ia melihat tentara, entah itu di TV ataupun ketika berpapasan di jalan. Sardi selalu berkata :
“Ayah, kapan aku bisa seperti itu,”
“Ayah, Aku mau secepatnya jadi tentara,”
Setiap kali Sardi mengatakan hal itu, Rohmin hanya mengangguk. Sesekali ia pun sekedar berkata:
“Kau harus rajin belajar biar pintar dan rajin makan biar cepat besar. Nanti kalau sudah besar dan pintar baru jadi tentara,”
Sardi selalu mengangguk dengan kesungguhan, tiap kali mendengar nasehat ayahnya yang berkaitan dengan cita-citanya menjadi tentara. Secara tak langsung pun, istri Rohmin, Nuri menemukan cara ampuh untuk memaksa Sardi, bila sudah putus asa apabila Sardi tidak ingin makan. Nuri akan berkata:
“Katanya mau jadi tentara. Tentara itu harus kuat. Mana bisa kuat kalau tidak makan,”
Mendengar kata-kata itu, Sardi acapkali seperti tersadar dari kesalahan yang amat fatal. Ia akan makan dengan lahap, bahkan memaksa diri makan sebanyak-banyaknya. Nuri pun tersenyum melihat perangai anaknya itu.
Bukan hanya itu saja, tetangga di sekitar rumah mereka pun sudah banyak yang tahu cita-cita Sardi. Tak lain karena Sardi selalu menceritakannya pada semua teman-temannya dan juga tetangga. Pernah ada tetangga yang melihat Sardi hobi makan permen berkata:
“Sardi, mau jadi tentara giginya harus bagus. Permen itu akan membuat gigimu rusak,”  Sardi pun menurut. Sejak saat itu ia pun tak pernah lagi menyentuh permen.
Sebenarnya, di hati Nuri. Ia berharap anaknya itu menjadi dokter. Sebenarnya menjadi dokter adalah cita-cita Nuri sejak kecil. Namun, karena keterbatasan ekonomi keluarga. Cita-cita itu terkubur berbarengan dengan putusnya ia sekolah di kelas tiga SMP. Hingga saat ini, mau tidak mau ia tak boleh lagi mengingat manisnya cita-cita itu lagi, kalau tidak mau makan hati. Bagaimana tidak, kehidupan yang berkecukupan ia dambakan sama sekali tak dapat ia rasakan. Ia harus puas tinggal di rumah sangat sederhana di sebuah desa pinggir pantai, yang dibelinya bersama Rohmin dengan uang yang sejak lama mereka tabung. Nuri sama sekali tak berani bermimpi untuk mempunyai kehidupan yang lebih layak lagi. Untuk biaya hidup sehari-hari saja, penghasilannya sebagai buruh pabrik dan Rohmin sebagai supir taksi tak dapat mencukupi. Namun, walaupun begitu ia dan Rohmin selalu berusaha menabung untuk biaya pendidikan Sardi nantinya. Ia sama sekali tidak ingin Sardi mengalami nasib yang sama dengan mereka. Ia ingin sekali dapat membiayai pendidikan Sardi hingga menjadi dokter. Baginya dokter dapat menjamin kemakmuran dunia dan akhirat. Dalam pikirannya, Nuri selalu percaya , Bila nanti Sardi menjadi dokter gajinya lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan Sardi. Belum lagi pekerjaan dokter menurutnya adalah pekerjaan yang mulia, pekerjaan yang mengundang pahala karena menolong menyembuhkan orang lain dari penyakitnya.
Namun, semenjak keinginan menjadi tentara terlontar dari mulut anaknya itu, ia mulai gelisah. Jujur dalam hatinya ia sangat tak menyukai profesi tentara. Profesi yang sangat berbahaya, itulah yang ada dalam pikirannya ketika mendengar kata tentara. Pernah suatu kali kegelisahannya itu diutarakannya pada Rohmin. Sambil tersenyum Rohmin berkata.
“Nuri, Sardi itu masih kecil. Cita-citanya itu bisa berubah nantinya,”
“Lagi pula kita orang tua hanya bisa mendoakan. Urusan cita-cita itu hak anak untuk menentukan,” begitulah kata Rohmin.
Pada mulanya, Nuri sempat protes pada kata-kata suaminya itu. Namun, seiring waktu ia sependapat dengan Rohmin. Dengan kasih sayang seorang ibu, ia pun memutuskan akan mendukung apapun keputusan anakanya, selagi keputusan itu demi kebaikan anaknya. Sejak itu pula ia berusaha membuat Sardi merasa dekat dengan cita-citanya.
Pernah di suatu hari yang terik. Ketika Nuri memutuskan untuk mengajak Sardi berjalan-jalan ke pasar dadakan.. Mata Sardi menangkap senapan-senapanan yang berukuran cukup besar. Tentulah tak lama kemudian ia merengek meminta Nuri membelikan senapan-senapanan itu. Namun, apa boleh buat terpaksalah Nuri menahan rasa ibanya melihat Sardi menangis, karena uang di tangannya tak dapat menebus harga senapan-senapanan itu. Sepulang dari pasar, secara sembunyi-sembunyi Nuri menangis sejadi-jadinya di dapur. Baru kali itu ia menangis menghadapi tingkah polah Sardi, biasanya ia hanya maklum atau mengeluh saja. Agaknya tiga minggu terakhir ini ia memang dirundung resah. Tepatnya sejak sengketa tanah desa seluas 4,5 hektar tempat ia dan tetangga-tetangganya bermukim terjadi. Pihak Tentara bersikeras tanah itu milik mereka, dan berniat mengambil tanah itu untuk dijadikan markas.
Masalah sengketa tanah itu terus bergulir, demo-demo warga desa pun tak terelakkan dan pasukan berseragam loreng itu semakin sering berkeliaran di desa mereka. Seluruh warga gelisah dengan keadaan itu. Bahkan baku hantam antara warga dan tentara pun tak dapat dielakkan. Semua membenci tentara-tentara tersebut, tak terkecuali Rohmin dan Nuri. Namun, tidak begitu adanya dengan Sardi. Ketika bocah-bocah seumurannya di desa itu berlari dan bersembunyi, Sardi malah berlari mendekat dengan maksud memeluk tentara yang dilihatnya. Jadilah Nuri dan Rohmin berusaha keras mengawasinya agar tak mendekati tentara-tentara itu. Itu karena tentara-tentara itu semakin garang dan tak sungkan memukul warga yang dianggap mengganggu kegiatan mereka. Sebenarnya warga tahu maksud tentara semakin sering ke desa mereka. Tak lain untuk membuat warga mau menyerahkan sertifikat tanah mereka.
“Sardi jangan mendekati tentara-tentara itu, mereka jahat,” begitulah Nuri dan Rohmin berkata, agar Sardi tak mendekati tentara.
“Tidak, tentara itu baik. Mereka gagah. Aku mau seperti mereka,” Sardi menjawab dengan nada kesal.Nuri dan Rohmin akhirnya hanya bisa tersenyum pahit, padahal dalam hati mereka gelisah dan kesedihan meruak hebat. Hari berlalu hari, kasus sengketa tanah itu semakin menjadi-jadi. Demo ke pemerintahan pun sudah terlalu sering, namun sengketa tak juga usai. Bentrok antara warga dan tentara pun makin sering terjadi.

Hingga suatu hari yang terik, ketika warga bersiap-siap untuk melangsungkan demo sesuai dengan rencana. Ketika warga desa tengah bersiap-siap di balai desa, sebuah truk datang. Puluhan tentara bersenjata turun dari truk itu. Sontak suasana pun menjadi ricuh. Warga panik, Ibu-ibu dan anak-anak berlarian untuk mencari tempat persembunyian dan menjauh dari tempat bentrok. Di tengah kegaduhan itu tak jarang terlihat anak-anak terajatuh kemudian terinjak-injak. Jerit tangis anak-anak, teriakan ibu-ibu semakin menambah kegaduhan. Belum lagi tentara-tentara itu tak segan memukul warga yang bersentuhan dengan mereka. Baku hantam pun akhirnya terjadi. Warga menjangkau benda-benda keras apa saja yang dapat dijadikan alat untuk memukul. Batu, kayu besi bekas, semuanya digunakan. Baku hantam pun akhirnya tak terelakkan.
Di antara kericuhan itu, Nuri terlihat panic. Di tengah keramaian yang gaduh dan berantakan itu ia mencari-cari sardi. Namun, pandangan matanya terhalang oleh  orang-orang yang berlarian dan lalu lalang di sekitarnya. Sontan berkali-kali ia terjatuh tersandung bebatuan. Namun, ia tak berhenti mencari sardi. Ia dapat merasakan napasnya memberat. Degupan jantungnya semakin cepat. Ia terus mencari sardi mencoba mencari di tengah keramaian itu. Sesekali berusaha menghindari temu pandang dengan tentara. Sesekali ia menjauh dari tentara dan berlari ke lain sisi. Dalam pikirannya ia hanya ingin Sardi di sisinya. Ia ingin memastikan anak kesayangannya itu berada aman di sisinya.
Nuri galau dari kejauhan melihat Rohmin ikut serta dalam baku hantam itu. Namun, bukan itu kiranya yang membuat air matanya mengalir deras dan ling lung. Teriakannya seakan tenggelam oleh suara teriakan warga yang baku hantam dan teriak ibu serta bocah-bocah lainnya.
“Sardi….,”
“Sardi….,”
“Sardi…., Dimana kau, Nak?,” teriaknya seraya berlarian. Matanya semakin gencar mencari sosok anak semata wayangnya itu. Namun, diantara ketidakaturan itu ia tak juga menemukan sosok anaknya.
Sementara itu, di dalam kerumunan tak jauh dari Nuri yang ling-lung mencari Sardi. Sardi berlari menuju tentara berloreng. Ia berteriak keras dengan raut wajah yang menggambarkan kegembiraan yang amat jelas terlihat.
“Tentara…., tentara…., aku juga mau jadi tentara,”
Dari jarak beberapa meter dari Sardi, seorang tentara yang masih berumur sekitar 20 tahunan terlihat panik di antara bentrokan itu. Ia terlihat berusaha menghindar dari pukulan warga dan sesekali memukul beberap orang warga yang mngeroyokinya. Ia terus berusaha menghindar, sesekali melihat ke tentara lain yang juga terlihat berusaha menghindar dari pukulan warga dan juga sesekali memukul warga. Ia semakin panik, ia berusaha lari namun, sauasana yang amat kacau membuatnya tak tahu dan tak bisa menghindar.
Tak lama kemudian. Beberapa peluru melesat dari senapan laras panjangnya yang sedari tadi diusahakannya untuk tidak memuntahkan peluru. Karena memang atasan selalu mengingatkan senapan itu dibawa hanya untuk menakuti warga bukan untuk menembakkan peluru. Sontak bentrokan itu pun berhenti. Warga berhenti dan tiarap. Tentara-tentara lainnya berusahamencarai sosok yang baru saja menembakkan pelurunya.
Ketika semua berheti bergerak dan diam, beberapa tubuh warga terlihat mengeluarkan darah. Bahkan ada beberapa yang langsung terjatuh tak berdaya. Diantara keheningan itu. Teriakan Nuri terdengar jelas. Tangisannya menjadi-jadi, ia berlari menuju sesosok bocah yang pada bagian dadanya berdarah akibat ditembus peluru panas. Semua mata melihat kea rah Nuri yang memeluk anak semata wayangnya yang saudah tak bernafas. Tangis dan teriakannya menjadi-jadi.
“Sardi…., anakku bangun,”
“Sardi bangun….,”
“Ibu tak mau kau jadi tentara, Nak,” begitulah teriaknya berkali-kali. Diantara tangisan  dan desahan nafasnya. Sedang Rohmin tak tahu entah dimana.