Ada kalanya rasa bosan yang entah datang dari mana datang tak terduga. Sungguh terasa, dan begitu mngusik. Seketika, saya teringat kembali akan Chairil Anwar, seorang yang meninggal muda, 28 April 1949. Hidupnya yang hanya 27 tahun itu terkesan begitu bergairah dan bergemuruh. Chairil bukan hanya punya kearifan dan wawasan. Baginya manusia perlu “daya rangsang” and antusiasme. Dalam sebuah pidato pada 1943 Chairil mendahului paragraf pertamanya dengan sajak:
Mari bediri merentak
Diri sekeliling kita bentak
Kehendak menggugah (me-”rentak” dan mem_”bentak”) itu bagian dari yang disebutnya sebagai ”tenaga hidup”. Dalam seni, menurut Chairil, ”tenaga hidup” itu selalu muncul sebelum keindahan, berupa tahap pendahulu yang galau.
Kreativitas memang diawali rasa gelisah mencari, kegalauan ingin menemukan, juga niat merombak. Sesuatu yang destruktif tersirat di dalamnya. Seorang pujangga menurut Chairil Anwar tak gentar akan apa pun. ”pohon-pohon beringin keramat” ia panjat. Bahkan ia akan ”memotong cabang-cabang yang merindang-merimbun tak perlu…”
Menurut Chairil, terkadang ”tenaga hidup” kehilangan rangsang untuk mencari, untuk gelisah, untuk berbeda. Dan akhirnya tak ada lagi kegalauan ingin menemukan dan juga niat merombak. Kreativitas dan ”tenaga hidup” pun melemah.
Saya teringta sajak Chairil
Tidak aku tidak mau
Biar angin malam menderu
Menyapu pasir, menyapu gelombang
Dan sejenak pula halus menyisir rambutku
Aku mengembara sampai menemu
Sangat tersirat dengan jelas ingin menegaskan kebebasan. Tak ingin adanya gangguan melangkah. ”tenaga hidup” yang membara. Dan rasanya memang tak pantas ”tenaga hidup” diganggu dengan hal-hal yang bahkan karena saking tidak pentingnya menjadi tak jelas. Ah, seandainya saja semua orang menyadarinya. Dan kemudian bersama kita berteriak.
Aku ingin hidup seribu tahun lagi