Suatu kali pernah kau katakan aku buta
mengumpulkan mutiara mutiara pada helai rambut
sedang debu berterbangan
mata tak juga pedih

dari sebuah jendela parasmu menggantung
dengan bendera merah putih di binar mata
ada luka pada begitu banyak wacana
katamu air bejanaku bantu sembuhkan
namun kau meringis menahan perih

di tengah mereka kau berteriak-teriak
aku bisu
mereka kaku
seorang dengan toa mengatakan ‘tolong biasa saja’
aku tertampar keras sekali
tepat di dada kiri

ini bukan dongeng katamu
kakimu pincang yang terbelenggu berlari-lari tanpa beban
pada sebuah senjamu, fajarku
kau hadiahkan sebuah pena
mereka meringis, kaku
untuk nusantara katamu,ini bukan dongeng ini nyata
kabut itu enyahkan