Hari ini Saya tidak bangun dengan perasaan bahagia seperti biasa. Padahal biasanya selama hampir dua tahun terakhir ini Saya selalu terbangun dengan perasaan bahagia. Namun, tidak dengan hari ini. Saya bangun dengan perasaan sedih yang teramat sangat. Bahkan sering kali Saya berpikir pernahkah sebelumnya merasakan perasaan sedih seperti ini. Mungkin saja pernah. Pastinya dengan alasan yang berbeda. Kali ini saya tahu pasti saya sedih karena Dia.
Saya beranjak menuju sebuah cermin besar di salah satu sisi kamar. Saya dapat melihat rambut yang yang kusut masai. Rambut lurus itu terlihat tak lagi lurus. Biasanya yang pertama Saya lakukan ketika bangun tidur adalah menyisir rambut Saya. Karena Dia sering kali berkata dia sangat menyukai rambut Saya. Namun, Saya tidak menyisir rambut hari ini. Hal itu Saya lakukan karena Dia. Karena Saya ingin menimbulkan rasa benci untuk Dia sehingga menutupi semua rasa sayang dan cinta.
“Semua harus berakhir,” Begitulah Dia berkata.
“Tak bisa seperti ini,” Saya menjawab.
“Maaf,” kata Dia.
“Jangan pergi,” Saya berkata lagi.
Namun, malam itu terlalu larut. Dan rupanya Dia memang tak lagi ingin berkata apa-apa. Lalu pergi begitu saja. Saat itu dalam hati saya ada kekecewaan yang menumpuk begitu banyak. Kekecewaan akan semua ketidakpastiaan alasan kepergiaan Dia. Kekecewaan akan semua perpisahan dan luka.
***
“Dia telah pergi,” keluh Saya pada Ia.
“Kenapa Dia pergi?” tanya Ia.
“Dia ingin sendiri,” jawab Saya
Ia pun terdiam tak lagi berkata apa-apa. Ia kembali meminum jus jeruk itu. Saya hanya menatap Ia dengan berbagai tanda tanya. Lalu menatap kosong pada dinding kafe itu. Sedang matahari sudah semakin beranjak menuju atas kepala. Lalu Ia menatap saya.
“Kenapa memakai topi?” tanya Ia.
“Hanya ingin memakai saja,” jawab saya.
Ia pun lagi-lagi tak berkata apa-apa. Ia kembali meminum jus jeruk itu. Saya telah berbohong pada ia. Sebenarnya saya tak ingin menggunakan topi. Saya benci topi. Ia pun sudah lama tahu saya benci topi. Tapi Saya harus menutupi rambut Saya yang tak lagi lurus karena kusut masai. Kalau Saya tidak memakai topi tentulah ia akan malu keluar rumah untuk menemui Ia di kafe itu. Bagaimana pun juga Saya tak ingin menyusuri rambut Saya. Saya ingin membenci rambut Saya.
Saya mengaduk-aduk susu putih di dalam gelasnya. Lalu meminumnya beberapa teguk. Saya terlihat tak menikmati tegukan itu.
“Kenapa meminum susu putih?” tanya Ia.
“Bukankah tak suka susu putih?” tanya Ia lagi.
“Sekarang Saya suka susu putih,” Jawab Saya pendek.
Ia lagi-lagi masih terdiam. Kembali menyeruput jus jeruknya. Ia tahu Saya berbohong. Saya memang berbohong. Dari dulu Saya tak suka susu putih. Tapi hari ini Saya ingin susu putih, walaupun Saya tidak suka susu putih. Saya ingin minum susu putih karena Dia. Dia paling suka minum susu putih.
“Ingin sendiri, topi dan susu putih,” ujar Ia setelah beberapa saat terdiam. Saya hanya diam tak mengerti.
“Ingin sendiri, topi dan susu puti. Semua sama,” ujar Ia mengulangi. Lalu Ia beranjak pergi meninggalkan meja di sudut kafe itu. Meninggalkan Saya yang menatap kosong ke dinding kafe. Matahari sudah berada di atas kepala.

***
Sementara itu di sebuah kamar yang luas, dia termenung. Matahari sudah di atas kepala. Baru beberapa saat yang lalu Dia terbangun lalu beranjak mengguyur tubuh. Dia tahu Dia harus segera bergegas dan memulai aktivitas seperti biasa. Tapi dia tetap termenung. Termenung melihat lemarinya yang penuh baju sekarang hanya berisi tak sampai dari setengah. Dari semua baju yang tertinggal tak ada warna putih. Padahal Dia sangat sering membeli baju putih karena Saya. Semua baju putih itu kini telah berpindah ke dalam kotak kardus di dalam gudang. Semua itu juga karena Saya. Dia teringat Saya selalu berkata.
“Baju putih selalu terlihat bagus dipakai,” SAya akan mengatakannya setiap kali Dia memakai baju putih.
“ Saya suka putih,” ujar Saya lagi. Tiap kali mendengarnya Dia hanya tersenyum. Dia memang memakai baju putih untuk Saya.
***
“Kisah cinta itu telah berakhir,” ujar Dia.
“Kenapa?” Tanya kamu.
“Kesendirian lebih baik,” jawab Dia singkat.
Kamu terdiam, lalu menatap kosong ke luar jendela kafe itu. MAtahari telah lama tenggelam. Kamu tahu Dia berbohong. Dia tahu Dia berbohong bukan hanya pada Kamu tapi juga pada Saya. Dia paling benci kesendirian. Apalagi kesendirian tanpa Saya.
“Kenapa memakai baju hitam?” Tanya Kamu.
“Warna hitam itu bagus,” jawab Dia.
Lalu Kamu kembali terdiam. Kembali menatap ke luar jendela. Malam semakin larut. Kamu tahu Dia berbohong. Dia paling benci hitam. Semua kebohongan hanya untuk Saya. Dia terdiam. Dia tahu Dia berbohong. Tak lama kemudian seorang pelayan dating. Mengantarkan secangkir kopi untu Dia.
“ Kenapa kopi?” Tanya Kamu.
“Rasa kopi itu enak,” jawab Dia singkat.
“kesendirian, hitam dan kopi. Semua sama,” ujar Kamu lalu pergi meninggalkan Dia. Kali ini Dia yang menatap kosong ke luar jendela. Malam semakin larut saja..
***
Matahari sudah lama terbit lagi. Namun, masih jauh dari atas kepala apalagi tenggelam mengakhiri terang. Di sebuah kursi taman, Saya dan Dia duduk besebelahan. Matahari begitu bersahabat dengan tidak mengeluarkan panas yang berlebihan. Namun., suasana beku dan tak bersahabat. Seperti hati Saya dan Dia yang beku. Angin semilir diantara Saya dan Dia.
“Benarkah harus berakhir?” Tanya Saya memecah keheningan.
“Janganlah pernah bertanya lagi,” ujar Dia.
“Yah, sudah tak apa. Asalkan benar-benar untuk menjemput bahagia.
Lalu Saya berlalu meninggalkan Dia duduk di kursi taman. Matahri masih jauh dari atas kepala apalagi tenggelam bersama senja. DAlam hati Saya bertanya: “Apakah semua ini memang demi Kamu?”. Dalam hati dia pun juga bertanya: “Apakah SAya benar-benar mencintai Ia?,”
***
Di sebuah Kafe. Ia dan kamu duduk di meja yang terpisah. Masing-masing duduk sendirian, bermain dengan pikiran masing-masing. Ia meminum kopinya. Padahal IA tak suka kopi. Ia tahu Saya suka kopi. Ia teringat akan peristiwa kemarin: ingin sendiri, topi dan susu. Dalam hati Ia bertanya:
“Saya masih sangat mencintai Dia. Haruskah penantian berakhir sampai di sini?,”
Sementara itu, Kamu termenung seraya meminum susu putih. Kamu tak suka susu putih. Tapi Kamu tahu Dia suka susu putih. Ia masih memikirkan kejadian kemarin: Kesendirian, Hitam dan kopi. Dalam hati kamu bertanya:
“Dia masih sangat mencintai Saya. Dia takkan bias melupakan Saya. Haruskah semua penantian berakhir sampai di sini?’