Hari ini. UNP mewisuda mahasiswa lagi. saya terbangun karena bunyi klakson yang berisik. karena rasa ingin tahu, dengan lunglai saya memaksakan diri berjalan terhuyung-huyung menuju jendela. masih belum jam tujuh pagi tapi jalan dalam kampus unp sudah padat. Suatu kemacetan rutin saat perhelatan wisuda. sudah menjadi tradisi di UNP, ketika wisuda sekian banyak keluarga ikut menghadiri perhelatan wisuda itu. bahkan ada yang sampai lebih dari satu mobil ukuran besar.
Siang harinya dari reporter Ganto yang ditugaskan untuk meliput acara wisuda itu, saya mendapat kabar jumlah wisudawan kali ini lebih dari 3000 wisudawan.
Saya menyempatkan diri untuk melihat sekilas ke beberapa fakultas yang menyelenggarakan acara wisuda di masing-masing fakultas seusai perhelatan wisuda bersama di GOR UNP, sekaligus menyapa dan mengucapkan selamat kepada beberapa kenalan yang diwisuda.
walaupun saya ragu selamat atas apakah yang telah saya ucapkan pada mereka.
saya rasa hanya sebatas ucapan selamat atas keberhasilan melewati satu langkah lagi saja dalam kehidupan.
namun, ada rasa heran yang muncul. sebenarnya apakah yang membuat para wisudawan begitu bahagia ketika wisuda. apakah karena gelar sarjana sudah di tangan? mungkin saja iya. lalu mengapa gelar sarjana menjadi begitu berharga sehingga membuat orang yang berhasil memperolehnya bahagianya? apakah guna gelar itu? bukankah tak lain dan tak bukan untuk bisa memperoleh pekerjaan sehingga disebut telah “jadi orang”.
bukankah ini berarti gelar sarjana hanya sebagai alat untuk mencapai atau mendapat pekerjaan tertentu.
pertanyaannya mengapa bisa begitu bahagianya untuk satu alat yang belum mencapai apa-apa? bukankah itu hanya alat yang belum memberikan manfaat. bukankah ketika telah memiliki alat untuk bisa mencapai satu tujuan, tahap selanjutnya yang seharusnya dipikirkan adalah bagaimana alat itu bisa membuat kita sampai pada tujuan? menyiapkan dan memikirkan cara-cara agar alat itu bisa berguna dengan baik.
Jika seperti itu masih pantaskah wisuda disambut dengan gembira yang berlebihan? padahal belum ada gambaran sama sekali tentang pekerjaan yang akan dapat dimiliki?
ditambah lagi dengan fakta yang menunjukkan semakin banyak saja pengangguran yang salah satunya disebabkan sedikitnya lapangan kerja? sarjana yang menganggur pun begitu melimpah. tahun demi tahun semakin meningkat.
Badan Pusat Statistik melakukan survei tenaga kerja setiap Februari dan Agustus setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, pengangguran dengan gelar sarjana sekitar 12,59%. jumlah ini meningkat tiap tahunnya, pada Agustus 2006 contohnya, penganggur dari kalangan terdidik ini sebanyak 673.628 orang atau 6,16 persen, setengah tahun kemudian jumlah ini naik menjadi 740.206 atau 7,02 persen.maka dengan gelar sarjana dan ketidakjelasan pekerjaan yang bisa kita miliki setelah wisuda seharusnya menjadi ketakutan tersendiri.Sesuatu yang mengingatkan kita bahwa wisuda bukanlah kebahagiaan yang abadi. kebahagiaan yang mungkin saja hanya dapat kita nikmati dalam waktu yang sekejap sampai kita menyadari susahnya menjadi pengangguran. cepat atau lambat kita menyadari itu tergantung dengan seberapa peka kita terhadap tujuan yang ingin kita capai.