memanusiakan-manusia1Ketika kita ‘mahasiswa’ mengecam UU BHP yang dianggap akan menghancurkan pendidikan Indonesia. UU BHP yang dianggap tidak sesuai dengan filosofi pendidikan dan UU BHP yang akan menghilangkan hak pendidikan orang-orang yang tak mampu. Ada baiknya kita kembali merenungkan makna dan tujuan pendidikan itu di tingkat yang paling dasar. Mungkin saja kita akan menyadari pendidikan itu mungkin saja telah terancam sejak dulu dan UU BHP hanya bagian dari proses panjang penyelewengan makna pendidikan itu sendiri.
Kebanyakan orang berpendapat pendidikan adalah proses pengajaran yang kemudian diakhiri dengan beberapa ujian. Padahal pengajaran hanyalah bagian kecil dari pendidikan itu sendiri. Ia hanya alat untuk mencapai tujuan dari pendidikan. Begitu pula UU BHP. Ia hanyalah bagian dari alat yang dipakai untuk mencapai tujuan utama pendidikan. Sistem yang seharusnya digugat ketika ia diragukan untuk menambah keuntungan untuk mencapai tujuan pendidikan. Sistem yang seharusnya digugat ketika ia memiliki potensi besar menghancurkan dan menghambat tujuan pendidikan.
Pendidikan menurut salah seorang filsuf, Freire adalah proses ‘memanusiakan’ manusia. Secara sederhana, pendidikan bisa berarti usaha memaknai dan mewujudkan untuk mencapai potensi terbaik kehidupan manusia. Untuk menjadi manusia yang “manusia”, dalam artian manusia yang memiliki ilmu pengetahuan dan peka terhadap sekitar karena ilmu pengatahuannya itu.

Lalu dengan ilmu pengetahuan pula mewujudkan berbagai sikap peduli. Pendidikan sejatinya bertujuan ‘mencerdaskan’ bukan memintarkan. Dalam artian cerdas berarti pintar dengan dilengkapi peka dan peduli.
Maka semua sistem atau semua kebijakan harus mengarahkan ke tujuan itu. Bagaimana dengan UU BHP? Apakah akan membantu mencapai ke tujuan memanusiakan ‘manusia’? Dengan sistem otonomi, pendanaan dan berbagai aturan lainnya yang diasumsikan dapat memacu semua satuan pendidikan untuk menaikkan mutu masing-masing. Apakah benar ketakutan sistem ini akan mengganggu tujuan pendidikan. Bahkan sampai menghilangkan proses memanusiakan ‘manusia’ untuk masyarakat tak mampu, hanya sekedar ketakutan semata?
Fakta yang tak bisa ditutupi adalah siapkah negara ini menjalankan sistem ini? Apakah orang-orang yang menjalankannya akan tetap pada kaidah tujuan pendidikan? Secara kasat mata tidak. Mengingat betapa banyaknya mental-mental bobrok yang tak sempurna proses ‘dimanusiakannya’ hingga lebih suka mengambil banyak hal untuk diri sendiri yang kehilangan kepakaan dan peduli. Dan bukan hanya sekedar membiarkan kebobrokan bersileweran tapi juga ikut ambil andil dalam kebobrokan itu sendiri.
Pertanyaan yang muncul berikutnya. Apakah proses ‘memanusiakan’ kita telah menunjukkan hasil? Apakah kita telah peka pada hal yang terlihat atau terjadi lalu menyikapinya secara sehat. Begitu pula tentang masalah pendidikan (UU BHP) apakah kita telah mengkritisinya dengan segala keobjektifan, kekritisan yang berbalut dengan ilmu pengetahuan? Yang dengan ini kita menunjukkan kita adalah seorang Maha dalam sebuah perjalanan “memanusiakan” manusia.
Ini sangat penting dalam pembentukan sebuah generasi. Sebuah generasi kritis yang menolak nilai lama yang terasa buruk, dan mampu mengajukan nilai baru yang lebih progresif. Seperti yang dicita-citakan pendidikan: mewujudkan kehidupan manusia yang lebih indah dan bermartabat dengan terlebih dahulu ‘memanusiakan manusia’. Ketika kita tidak yakin akan terselesaikannya sebuah masalah ini dengan baik maka berpartisipasilah.***(fajar skk Ganto UNP, edisi februari 2009)