cecilia-dan-malaikat-arielJudul Buku : Cecilia dan Malaikat Ariel
Pengarang : Jostein Gaarder
Penerbit : PT. Mizan Pustaka
Cetakan : I Desember 2008
Tebal buku : 210 halaman

Jostein Gaarder, penulis novel filsafat Dunia Sophie muncul lagi dengan karya baru. Jostein yang melambungkan namanya dengan novel Diunia Sophie yang hingga sekarang telah terjual lebih dari 30 juta kopi di seluruh dunia. Novel Dunia Sophie ini pun menjadi buku pengantar filsafat di berbagai universitas di dunia. Sejak itulah dosen filsafat ini terus meluncurkan buku baru yang bisa dikatakan berpijak apda tema yang sama : filsafat. Novel Cecilia dan Malaikat Ariel adalah novel keempatnya setelah Dunia Sophie, Bibbi Bokken dan Maya.
Sama dengan beberapa novel sebelumnya, novel Cecilia dan Malaikat Ariel juga berkaitan dengan filsafat. Melalui Novel ini, Jostein ingin menyampaikan bagaimana hubungan Manusia, Tuhan dan Malaikat dipandang dari kaca mata filsafat. Bagaimana Tuhan mengatur kehidupan, bagaimana pula manusia dan malaikat itu memiliki banyak perbedaan dan mereka menjalani kehidupan masing-masing.Pembahasan ini disampaikannnya melalui tokoh Cecilia dan Malaikat Ariel. Semuanya bermula pada malam natal yang menjadi malam natal paling menyedihkan bagi Cecilia, seorang gadis kecil yang pada mulanya adalah seorang gadis kecil yang periang dan sangat senang bermain ski. Sayangnya semuanya berubah, Cecilia sakit keras dan ia hanya bisa terbaring di karamar dan mungkin takkan pernah sembuh. Cecilia marah kepada Tuhan dan menganggap Dia tak adil.
Pada suatu malam terjadilah keajaiban. Malaikat Ariel menampakkan dirinya pada Cecilia. Mereka berkenalan, acap kali sering mengobrol dan karena menyadari begitu banyak perbedaan diantara mereka dan ingin saling mengetahui.
“Bagi kami, kalian adalah hantu, Cecilia, bukan sebaliknya. Kalian dating dan pergi. Kalianlah yang tidak abadi. Kalian mendadak muncul, dan setiap kali seorang bayi diletakkan di dalam perut ibunya, itu adalag sebuah keajaiban. Tapi secepat itu pula kalian pergi. Seolah-olah Tuhan bermain gelembung sabun dengan kalian,” ujar Malaikat Ariel menjelaskan pada Cecilia salah satu perbedaan antara manusia dan malaikat.
Mereka juga sangat penasaran ingin mengetahui bagaimana rasa menjadi satu sama lain. Akhirnya, mereka membuat satu perjanjian. Cecilia harus memberitahukan seperti apa rasanya menjadi manusia dan malaikat ariel akan memberitahunya seperti apa surga itu.
Malaikat Ariel yang banyak mempertanyakan bagaimana rasanya menjadi manusia yang terdiri dari daging dan darah. Bahkan ia bertanya banyak hal tentang bagaimana rasanya menjadi manusia. “Malaikat tidak bisa merasakan apapun, Cecilia. Rasa dan hal-hal sejenisnya adalah misteri yang tak terpecahkan bagi malaikat di surga.”
Akhirnya, Cecilia mulai memahami sedikit demi sedikit rahasia kehidupan: para malaikat di surga tak bisa hancur. Itu karena mereka tak punya tubuh dari darah dan daging yang ditinggalkan ruhn saat ajal tiba. Berbeda dengan segala sesuatu di alam semesta. Di sini, semua hal bisa rusak dengan gampangnya. Bahkan, gunung pun perlahan terbang an berakhir sebagai tanah an pasir. Ada keburukan di alam semesta. Ada cacat di alam duniawi.
“kau berulang-ulang mengatakan bahwa manusia terbuat ari darah dana daging. Tapi, katamu juga, tak ada makhlul dari darah dan daging yang hidup abadi . menurutku itu sangat menyedihkan. Aku juga kepingin bermain lompat-lompatan dari asteroid ke asteroid selama beberapa ribu tahun. Lalu berlibur sebentar beberapa juta tahun si sebuah planet asing di sebuah galaksi yang jauh. Karena itulah aku sangat ingin tahu apakah kami punya kehidupan abadi.”
“Taka ada yang punya kehidupan abadi” termasuk malaikay. Karena malaikat tidak hidup. Itulah sebabnya mengapa kami tak bnisa merasakan apapun dan mengapa pula kami tak bertambah tua.