Puluhan bangkai anjing berserakan di anatara pepohonan di hutan itu. Baunya menyengat hingga ke perbatasan hutan dan desa kecil yang berada tak jauh dari sana. Penduduk desa kehilangan akal untuk menghindari bau yang sangat menyiksa itu. Menimbulkan rasa mual yang tak tertahankan. Tak seorang pun tahu sejak kapan bangkai itu ada di sana. Hingga saat bau itu sampai ke desa barulah penduduk desa tahu bahwa berpuluh-puluh bangkai anjing bergelimpangan di antara pohon-pohon besar di hutan itu. Memberikan panorama yang sangat tak biasa.

Kebanyakan pendduduk yang penasaran pernah datang untuk melihatnya. Bahkan pernah berpikir untuk menguburkannya. Namun, Selalu saja niat itu gagal. Bangkai-bangkai yang mati dengan penyebab yang tak pernah diketahui itu hingga berhari-hari, berminggu-minggu tetap saja berada di sana. Tak seorang pun bersedia menguburkan atau membakar bangkai-bangkai anjing itu. Entah karena jumlahnya yang terlalu banyak atau rupa bangkai itu yang terlalu menyeramkan. Penduduk yang pulang dari melihat bangkai-bangkai anjing itu pulang dengan ekspresi kosong hingga berhari-hari. Sudah sebulan bangkai itu tetap di sana. Baunya semakin menyengat, bahkan mengakibatkan tak ada lagi penduduk yang mendaci kayu bakar ke hutan.

Pada suatu siang di balai desa, semua orang terlihat sibuk. Beberapa orang telah berkumpul di suatu ruangan. Mereka duduk di kursi yang telah diatur hingga membentuk lingkaran. Hari itu rapat luar biasa antara kepala desa dan seluruh staf yang bekerja di balai desa akan berlangsung. Ini adalah rapat ketiga yang membahas tentang bangkai-bangkai anjing itu. Entah apakah akan sama dengan rapat-rapat sebelumnya yang tidak menghasilkan keputusan apa-apa. Tidak seperti rapat-rapat sebelumnya, untuk rapat kali ini kepala desa akan memecat staf yang tidak hadir.

Kepala desa tampak tegang. Matanya memerah, keningnya berkerut. Ekspresi yang sangat berbeda dari ekspresinya sebulan lalu. Kepala desa yang terkenal ramah dan murah senyum itu sudah tak lagi ada. Yang ada hanyalah kepala desa yang pemarah dan suka memaksakan kehendak.
”Saudara-saudara, kita tak bisa lagi berpangku tangan. Masalah bangkai-bangkai anjing itu harus depat diselesaikan,” ujar kepala desa seraya menghisap rokoknya. Kepulan asap rokok keluar dari mulutnya. Beberapa peserta rapat tampak tidak nyaman dengan asap rokok kepala desa. Sebagian ada yang menahan batuk hingga mukanya memerah. Inilah hobi baru kepala desa sejak ia merasa tertekan oleh protes penduduk mengenai bangkai-bangkai anjing itu.
”Benar Pak, kita harus cepat mencari jalan keluarnya. Agar masalah ini tidak berlanjut dan membuat penduduk jadi sengsara,” ujar salah seorang peserta rapat dengan nada bersemangat.
”Kau benar, penduduk sudah semakin gelisah. Yang miskin semakin melarat, yang kaya tinggal menunggu miskin,” kepala desa bertutur dengan nada yang tak kalah bersemangat. Kata-katanya ini disambut anggukan setuju peserta rapat. Sekejap peserta rapat membayangkan hal yang sama. Mereka membandingkan keadaaan desa sebelum keberadaan bangkai-bangkai anjing itu mengusik ketenangan mereka. Desa mereka yang makmur, hanya sedikit sekali penduduk yang tidak berkecukupan.

Kebanyakan penduduk sangat berkecukupan sesuai dengan pendapatan desa yang besar. Namun, sekarang semua itu hanya tinggal isapan jempol belaka. Pendapatan desa terus menurun akibat adanya bangkai-bangkai anjing itu. Pendapatan desa yang hampir seluruhnya berasal dari penjualan kayu bakar jadi terhenti karena penduduk yang biasanya mengambil kayu untuk dijual telah berhenti bekerja. Tak ada yang mau bekerja menebang dan mengambil kayu karena bangkai-bangkai anjing itu. Apalagi, penduduk desa itu dari dulu hingga sekarang masih menutup diri dengan perkembangan di luar desa. Mereka mengangap hal-hal yang baru berkembang di desa lain itu tidaklah berguna.
”Harus ada yang bersedia mengubur atau membakar bangkai-bangkai itu, Pak,” kali ini peserta lain angkat bicara.
”Dari dulu saya juga berpikir seperti itu. Tapi tidak ada yang bersedia. Kalau kita paksa penduduk , nanti bisa-bisa mereka berdemo dan membakar rumah kita seperti yang sering terjadi di kota- kota,” kepala desa bertutur seraya menopang dagu. Peserta rapat pun tampak berpikir keras dengan caranya masing-masing. Ada yang ikut menopang dagu, ada yang erpikir seraya melihat ke awang-awang. Ada pula yang menunduk seraya meremas-meremas tangannya sendiri.
”Saya tahu, Pak,” suara lantang salah seorang peserta rapat membuyarkan lamunan peserta lainnya.
”Muin dan Rohmi saja, Pak. Dari pada mereka dipecat karena tak datang rapat kali ini. Perintahkan saja mereka mengubur atau membakar bangkai-bangkai itu dengan mengajak sepuluh penduduk desa yang mau membantu,” ungkap pemberi ide dengan lagak sok cerdas.
Idenya itu bukan hanya disetujui kepala desa tapi juga oleh seluruh peserta rapat. Tak lama kemudian rapat ditutup. Kepala desa dan seluruh peserta rapat keluar ruangan dengan mata berbinar seakan telah melakukan sesuatu yang sangat besar.
***
Di salah satu jalan setapak desa, Muin berjalan tergesa-gesa. Mukanya memerah menahan amarah. Ia baru saja meninggalkan balai desa setelah dipanggil oleh kepala desa. Sudah lelah ia berusaha untuk menghindari perintah kepala desa untuk menghindari perintah kepala desa untuk mengubur atau membakar bangkai-bangkai anjing itu. Namun, usahanya tidak berbuah apa-apa. Ia juga diperintahkan untuk menyampaikan perintah kepala desa kepada Rohmi.Karena alasan sakit, Rohmi jari tidak dapat mengikuti rapat ataupun surat panggilan. Namun, kepala desa tak mau tahu apapun alasan ketidakdatangannya.
Muin berhenti di sebuah rumah, bergegas diketuknya pintu rumah itu dengan cukup keras. Membuat Rohmi yang bergegas membuka pintu.
”Mau tidak mau kita harus memusnahkan bangkai-bangkai anjing sialan itu. Kalau tidak kita akan dipecat,” ujar Muin dengan nada berapi-api pada Rohmi, setelah dipersilahkan masuk dan menyampaikan tujuan kedatangannaya.
Sesaat Rohmi hanya terdiam. Ingin rasanya ia tidak mempercayai semu yang dikatakan Muin. Tapi dengan surat tuga dari kepala desa yang dibawa Muin, keraguan Rohmi hilang tidak tahu harus berbuat apa. Ia sama sekali tidak ingin menyiksa diri mencium bau bangkai-bangkai anjing itu.
”Begini Rohmi, kau kan tahu aku punya banyak anak yang harus kuurus. Tidak mungkin aku pergi ke hutan itu dan aku pulang menjadi orang yang ling lung,” Muin berujar dengan hati-hati. Ia melirik ke arah Rohmi, terlihat kemarahan dari raut wajah Rohmi.
”Aku memiliki anak-anak dan istri yang harus kuberi makan. Aku tidak ingin mereka terlantar,” ia kembali melirik ke arah Rohmi yang semakin memperlihatkan aura kemarahan.
”Maksudmu karena aku masih belum menikah jadi aku yang harus jadi tumbal,” ujar Rohmi emosi. Kali ini Rohmi membalas dengan lantang dan membanting vas bunga yang pada awalnya berada di atas meja. Pecahan-pecahan vas bunga itu berserakan di lantai. Melihat kemarahan Rohmi itu, emosi Muin pun terpancing. Namun, ia memilih pergi meninggalkan Rohmi begitu saja.

Sudah tiga hari berlalu. Rohmi dan Muin belum juga berbuat apa-apa untuk memusnahkan bangkai-bangkai anjing itu. Padahal kepala desa hanya memberi waktu seminggu untuk menyelesaikan tugas itu. Bila tidak, mereka akan dipecat. Bahkan mereka bukan hanya belum berbuat apa-apa, tapi juga belum sedikit pun merencanakannya. Mereka juga belum mencari sepuluh penduduk yang mau diajak untuk memusnahkan bangkai-bangkai anjing itu. Padahal, baik Rohmi maupun Muin tahu bukanlah hal yang mudah untuk mencari sepuluh penduduk itu.
Hingga suatu sore yang mendung. Muin nekat mendatangi rumah Rohmi sekali lagi. Ia ingin menyelesaikan beban itu secepatnya. Bukan hanya Muin tapi juga Rohmi sebenarnya tak pernah dapat berhenti memikirkan masalah itu. Mereka sama sekali tidak ingin dipecat dari balai desa.
”Bagaimana pun juga kita harus menyelesaikan tugas ini secepatnya,” ujar Muin dengan semangat yang berapi-api. Sedang Rohmi hanya terdiam. Ia membiarkan tetesan air mata jatuh berurai di pipinya.
”Aku punya rencana. Kita tak perlu mencari sepuluh penduduk ataupun melihat bangkai-bangkai anjing itu. Tapi kau harus membantuku,” lanjut Muin. Rohmi mendengar dengan seksama rencana yang dituturkan Muin. Sesekali ia mengerutkan kening. Ia merasa ragu dengan rencana Muin. Namun, Muin dapat meyakinkan Rohmi. Lagi pula mereka sama-sama tidak tahu rencana apa lagi yang dapat mereka lakukan.
***
Tepat pada hari yang direncanakan, Muin dan Rohmi terlihat berada di dalam angkutan kota yang juga mengangkut belasan jeriken berukuran besar. Bau minyak tanah menyengat di dalam angkutan kota itu. Sesampai di sebuah gubuk yang terletak di perbatasan desa dan hutan, Muin dan Rohmi saling berpandangan sesaat. Mereka melirik sesaat ke arah sopir yang pamit setelah menurunkan seluruh jeriken.
Muin langsung mengambil; jeriken-jerikenitu. Ia menumpahkan minyak di dalam jeriken ke dinding gubuk tak berpenghuni tersebut.Melihat Muin, Rohmi mengikuti apa yang silakukan Muin. Mereka menjalankan rencana tepatr seperti yang direncanakan. Saat itu , didni hari kebanyakan pendidik desa masih tertidur. Mereka memutuskan untuk  membakar gubuk yang berada di perbatasan desa itu. Menurut Muin, api dari gubuk inilah yang akan merambat ke hutan dan kemudian dengan sendirinya akan membakar bangkai-bangkai anjing. Rohmi sebenarnya sempat ragu karena cara ini benar-benar tidak tepat menurutnya. Tapi hingga sekarang ia tidak memiliki alasan yang tepat untuk menolak rencana Muin.
”Cepat Rohmi, nanti kita malah ketahuan penduduk desa. Meraka pasti akan membatalkan rencana ini,” ujar Muin seraya tak berhenti menyirami dinding gubuk dengan minyak tanah.
Rohmi pun mengambil jeriken terakhir yang berisi  minyak tanah melanjutkan rencana mereka. Tak lama kemudian, setelah semua semua selesai, dengan sebatang korek api dari yang tangan Muin terciptalah kobaran api merah menutupi rupa gubuk itu. Muin dan Rohmi pun bergegas meninggalkan gubuk.

Penduduk desa berlarian. Beberapa dia antaranya berusaha menyirami gubuk dengan air. Semakin lama situasi di desa semakin lama situasi di desa semakin kacau. Teriakan-teriakan menggema di setiap sudut desa. Beberapa orang yang pada mulanya berusaha memadamkan api, berhenti berusaha memadamkan api, berhenti berusaha. Mereka ikut menambah jumlah penduduk yang berlarian. Kekacauan menjadi pemandangan satu-satunya saat itu. Orang berlari dari arah utara, orang berlari dari arah selatan. Ada yang bertabrakan, ada yang terjatuh, ada yang terinjak ada pula yang terus berlari. Ada yang masih berada di dalam rumah berusaha menyelamatkan barang yang dianggap berharga. Padahal api telah sampai ke rumah tetangga sebelah. Teriakan dari timur, teriakan dari barat. Bunyi sirine mobil pemadam kebakaran yang terlalu lambat sampai. Bunyi kayu dilalap api. Bunyi benda-benda berjatuhan. Bau hangus tercium, bau bangkai anjing terbakar pun menyengat penciuman. Asap memerihkan mata.

Tak lama kemudian, sebagian besar penduduk berkumpul di seberang sungai. Tak jauh dari desa. Ada yang menjongkok. Ada yang tetap berdiri. Ada yang menangis meraung-raung, ada yang menangis tanpa suara. Ada yang berteriak-teriak seperti orang kesurupan, ada pula yang mulutnya komat kamit entah berzikir atau membaca mantra. Bola mata mereka terfokus  pada pemandangan yang sama kobaran api, rumah-rumah yang terbakar, hutan yang terbakar. Mereka menyadari lebih dari separuh rumah penduduk desa itu dilalap si jago mereka, Rohmi dan Muin hanya terdiam membisu. Ada pula kepala desa dan satu dua orang staf balai desa.
“Sekarang desa kita benar-benar miskin,” tutur kepala desa. Suaranya nyaris tak terdengar.*