menyembuhkan-lukaDemokrasi, sebuah alat yang katanya dapat membuat kita meraih tujuan untuk mewujudkan rakyat yang makmur sejahtera. Salah satu sistemnya: pengalihan hak untuk memilih pemimpin dari tangan penguasa yang otoritas ke tangan rakyat. Dengannya diharapkan akan memudahkan untuk mencapai tujuan tadi. Disinyalir rakyat akan tahu dan memilih mereka yang dianggap mampu menyususun strategi dan mengarahkan untuk mewujudkan tujuan.
Tujuan mewujudkan masyarakat yang sejahtera, dengan demokrasi sebagai alat, semua baru akan dapat tercapai ketika masyarakat seluruh Indonesia, tanpa terkecuali (termasuk pemerintah) mampu menjalankan sistem itu bukan hanya sekedar menjalankan. Namun, menjadikannya hal penting yang harus dijalankan dengan sesempurna-sempurnanya, dengan perhatian yang maksimal dan seksama.
Inilah yang agaknya perlu kembali diendapkan dalam diri dan diapresasikan dengan tindakan, mengingat pemilu menanti di kamis tanggal 9 ini, mengingat berpuluh-puluh partai dengan seabrek kandidat untuk berbagai macam tujuan kursi kelembagaan dan jenjang kursi pemerintahan menanti dicontreng dan membujuk dengan berbagai cara. Mereka teramat menyadari suara kita teramat berharga, sedang kita menganggapnya biasa saja. ada pula yang menganggap terlalu berharga dan tak rela memberikannya.ditutupi rasa muak, bosan dan tak bisa lagi mencoba untuk percaya.
Di seluruh nusantara, pemilu terlihat begitu megah, karnaval yang benar-benar sempurna jika dinilai dari banyaknya baliho, bendera dan apalah atribut partai lainnya yang nampang di mana-mana, bahkan di tempat yang terlarang sekalipun. Namun, ketika berbagai survey dan prediksi begitu banyak orang yang apathies dan takut kecewa yang akhirnya memilih tak memilih. Indonesia kalah, sistem demokrasi yang mengandalkan suara rakyat, ompong.
Alhasil, pemerintah kelabakan menanggapi berbagai survei dan prediski akan banyaknya mereka yang tak memilih, yang masuk ke dalam golongan putih. Sayangnya pemerintah tak seberani Australia untuk memberi sanksi pada mereka yang tak mau memilih ini. Hanya fatwa yang dianggap angina lalu saja. Pun ada yang memilih dengan seksama ada pula yang memilih dengan ‘sekedarnya’. Maka : demokrasi mengubah cara menentukan penguasa dari penunjukkan oleh kelompokkan kecil yang korup menjadi pemilihan oleh orang banyak yang tak kompeten.” Begitulah yang dituturkan seorang aktivis politik dan darmawan termasyhur Inggris, George Bernard Shaw.
Kata tak kompeten pun akhir-akhir ini menjadi favorit, mereka yang enggan memilih menganggap para caleg hanya sebatas orang-orang yang tak kompeten. Anggapan yang semakin disuburkan dengan munculnya caleg dari kalangan artis, petani, ibu rumah tangga bahkan pengamen. Mereka yang anti demokrasi, menganggap demokrasi dan pemilu tak kompeten untuk menjemput sejahtera. Yah : negara kita memang sedang sakit, negara yang masih dianggap tak kompeten dari berbagai sisi.
Apakah semua anggapan itu dibiarkan menguasai kewajiban kita untuk berperan secara politik (karena politik adalah milik semua rakyat)? Paling tidak pemilih yang jumlahnya 170 juta itu menggunakan hak pilih dengan efektif. Kalau pun ada yang salah dan mengecewakan dari pemilu ini, pantaskah kita untuk apathies atau takut kecewa. Ibarat luka yang telah terlanjur menganga. Bukan pilihan untuk kita menyembuhkan atau tidak. Berhasil atau tidaknya luka itu sembuh , yang terpenting adalah kita telah berusaha.