darah-di-telapak-tanganku Aku seolah melihat lumuran darah di telapak    tanganku. Darah segar yang begitu merah. Aku berlari beranjak dari tempat tidur, berlari menuju kamar mandi. Air mengalir deras dari keran langsung membasuh tanganku. Kecemasan menyeruak hebat. Ada apa dengan tanganku? Apakah tanganku terluka? Tapi kenapa tak ada sedikit pun rasa sakit. Mengapa darah segar itu begitu banyak, hingga menetes ke lantai sejak Aku berlari dari tempat tidur menuju kamar mandi. Ku teneliti setiap inci telapak tanganku. Tak ada luka, tergores pun tidak. Dari mana asal muasal darah itu? Apa yang Aku lakukan ketika tidur, hingga tanganku berlumuran darah sebanyak itu?

Aku berjalan lagi menuju ke tempat tidur. Kuperhatikan lantai yang kulalui tadi. Aneh, tak ada sebercak noda darah pun. Padahal Aku yakin sekali, darah telah menetes dari tanganku. Ah, ada apa ini? Tunggu dulu darahnya pasti akan tertinggal di selimut. Aku mengamati setiap bagian selimut. Tak mempedulikan istriku yang tidur terlelap dengan perutnya yang buncit. Namun, usahaku sia-sia, tak sedikit pun noda darah pada selimut. Padahal Aku yakin sekali telah menyisihkan selimut itu dengan tanganku seraya beranjak menuju kamar mandi tadi.

“Ada apa, Pa?” istriku ternyata telah memperhatikanku sedari tadi.

Aku menatapnya dengan pandangan ketakutan. Namun, Aku beralih ke perutnya yang buncit. Ada bayiku di dalam perut buncit itu. Dalam hitungan minggu anakku yang ketiga akan keluar dari perutnya itu. Ingin sekali menceritakan perihal lumuran darah di tanganku tadi padanya. Siapa tahu jawabannya akan menenangkanku seperti biasa. Namun, sebaiknya tidak kukatakan. Bisa-bisa malah dia yang akan lebih cemas. Tidak, Aku tidak ingin membuatnya cemas. Itu tidak baik untuk kesehatannya.

“Tidak ada apa-apa. Hanya mencari kunci yang hilang,” jawabku sekenanya. Istriku mengernyitkan dahinya. Tampak sekali rasa tidak percayanya itu. Namun, ia kembali tertidur.

Aku kembali membaringkan tubuh ke tempat tidur. Berusaha tidak memikirkan lagi masalah darah tadi. Mencoba meyakinkan diri Aku hanya bermimpi. Yah, mungkin Aku terlalu lelah seharian bekerja, sehingga bermimpi yang aneh-aneh. Seharusnya tidak perlu merasa cemas mimpiku berkaitan dengan darah. Bukankah setiap hari Aku telah terlalu akrab dengan darah. Lalu mengapa harus secemas ini? Ini hanya mimpi saja tak layak menganggu kenyamananku. Aku pun memaksakan diri untuk tidur.

***

Aku lagi-lagi melihat lumuran darah di tanganku. Beginilah beberapa hari terakhir ini. Ketika bangun tidur, sarapan, bekerja, makan siang, hingga hendak tidur. Berkali-kali kucuci, darah-darah itu muncul lagi. Aku muak, takut, benci. Sebenarnya apa yang terjadi? Sekarang seharusnya lumuran darah itu tak menggangguku. Pagi hari akhir pekan yang cerah, seharusnya lumuran darah itu tak muncul untuk mengganggu istirahatku dari pekerjaan yang melelahkan. Namun, lumuran darah itu tetap ada, pagi ini seperti akan menetes dari tanganku ke roti yang akan kulumuri mentega untuk anak bungsuku. Ah, darah merah segar yang menjijikkan, jangan ganggu aku. Aku beranjak dari kursi ingin menuju kamar mandi.

“Pa, roti untukku?” Tanya anak bungsuku.

“Jangan manja. Ambil saja sendiri untukmu!” aku bergegas menuju kamar mandi mencuci tangan dengan sabun berkali-kali. Berusaha menghilangkan rasa jijik.

Berhasil sudah darah ini menghancurkan kehidupanku, kenyamananku dan waktu istirahatku. Belum pernah kata-kata sekasar itu keluar dari mulut untuk anak-anak. Apa yang telah kulakukan? Pastilah telah sakit hati anak-anak dan istriku karena tingkahku yang acuh dan sikapku yang kasar akhir-akhir ini. Darah-darah itu telah berhasil membuatku tertekan, berhasil mengubahku menjadi karakter yang menjijikkan. Aku tak tahan lagi. Aku harus menghentikan semua ini. Sebelum darah-darah ini menghancurkan dan mengubah hal-hal yang lebih banyak lagi dalam hidupku.

“Tidak sarapan, Pa?” ujar istriku seraya mendudukkan diri di kursi dengan susah payah. Ah, kasihan sekali istriku ini. Ingin rasanya aku menggantikan untuk memiliki perut buncit itu saja padaku.

“Atau ingin kubawakan sarapannya kesini?”
Aku menggeleng. Istriku lalu tersenyum manis sekali. Senyum yang membuatku jatuh cinta padanya hingga hari ini.

“Ada yang aneh padamu akhir-akhir ini, Pa,” ujarnya kemudian. Aku tertegun. Ah, Aku telah menambah beban pikirannya.

“Ada apa? Ceritakanlah kepadaku.”
Kupandangi istriku. Kupandangi perutnya yang membuncit itu seraya membayangkan bayiku di dalamnya. Tak pantas kutambah bebannya dengan masalahku.

“Kau berubah, Pa. Doni menangis kau bentak tadi. Kau tak lagi lemah lembut seperti dulu. Kau juga selalu terlihat cemas, ketakukan.”

“Apa sebagai istri aku tak lagi dapat dipercaya?” ujarnya lagi. Ah, istriku ini memang tahu betul cara untuk memaksaku bicara. Kalau sudah seperti ini tak ada satu alasan pun untukku tidak menceritakan setiap masalahku padanya.

“Aku tak pernah melihat tanganmu berlumuran darah,” ujar istriku dengan rupa wajah cemas bukan main setelah mendengar ceritaku tentang darah itu.

“Semua orang memang tidak bisa melihatnya. Padahal darah-darah itu hanya meninggalkanku satu dua jam setelah kucuci. Setelah itu ada lagi. Darah itu selalu datang, datang dan datang lagi,”

Kuperhatikan perubahan wajah istriku yang menjadi semakin cemas. Ia tampak berpikir keras mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seketika aku menyesal telah menceritakan kepadanya.

“Kurasa itu perasaanmu saja, Pa. kau terlalu lelah bekerja. Pergilah ke psikiater aku akan menemanimu,” tuturnya dengan wajah iba. Seraya menggenggam tanganku.

“Kau pikir aku gila? Aku tidak gila. Mengapa harus ke psikiater ? Kau yang harus pergi ke psikiater !”

Istriku kaget karena bentakkanku itu. Wajahnya berubah pucat. Apa yang telah kulakukan? Aku telah menyakiti perasaannya. Mata istriku berkaca-kaca, air matanya bersiap jatuh. Lalu ia bergegas meninggalkanku dengan isakan tangis.

Tanganku berlumuran darah lagi. Darah segar yang begitu menjijikkan. Darah itu semakin banyak. Menetes-netes ke lantai. Darah itu semakin banyak saja di tanganku. Menjijikkan sekali. Darah itu semakin banyak menetes ke lantai. Aku benci, muak. Aku berlari ke kamar mandi. Kali ini bukan hanya tanganku yang kubasuh. Seluruh tubuhku kuguyur dengan air. Kubiarkan air yang mengalir deras dari shower membasahi semua pakaian dan tubuhku. Airnya bercampur dengan darah dari telapak tanganku. Di lantai kamar mandi air berwarna merah mengalir hingga ke lubang saluran pembuangan air. Semakin lama semakin banyak air berwarna merah. Aku bergidik ngeri. Aku jijik sekali dengan tanganku. Kuraih sebuah sikat. Lalu membasuh tanganku dengan air dari keran wastafel. Kusikat tanganku dengan sikat. Darah itu hilang. Namun, tak berhenti kusikat tanganku dengan kuat. Tangan yang menjijikkan sampai kapan darah itu akan tetap datang lagi. Tanganku memerah, tergores di sana sini karena disikat terlalu kuat. Rasanya amat pedih ketika terkena air. Aku merasakan lelah yang teramat sangat. Lalu mendudukkan diri di lantai dengan kaki berselonjor. Kulihat tanganku yang tidak berlumur darah dengan seksama.

Aku kaget saat darah itu muncul lagi. Menetes darah merah ke lantai, menjijikkan. Aku bergegas meninggalkan kamar mandi. Bajuku yang basah meneteskan air ke lantai. Aku tak peduli saat anakku bertanya ada apa. Aku menyambar kunci mobil di atas meja. Darah berlumuran pada kunci mobil, pintu mobil, stir mobil. Darah itu menetes ke celanaku. Ternyata Aku memang butuh berkonsultasi dengan psikiater. Tapi Aku tidak gila? Darah-darah ini berusaha membuatku gila. Kapan darah-darah ini akan berhenti menggangguku?

***

Kuparkirkan mobilku pada posisi yang sama seperti biasanya di tempat parkir. Di pintu masuk rumah sakit kusadari, satpam rumah sakit, Hendarto melihatku heran. Tentu saja karena bajuku basah dan rupaku pastilah menyiratkan ketidakberesan yang teramat sangat.

“Selamat pagi Dokter Iwan, Apakah Anda baik-baik saja. Anda terlihat berantakan,” ujarnya seraya mengejar langkahku yang tergesa-gesa.
Aku tak mempedulikannya. Namun, Ia tak menyerah begitu saja. Aku maklum, bukankah selama ini Aku selalu menyapanya ramah. Tapi saat ini aku sangat terganggu dengan kehadirannya.

“Dokter Iwan. Ada yang bisa Saya bantu. Bukankah Anda tak pernah bertugas di akhir pekan?” ujarnya seraya menyamakan kecepatan melangkah denganku.

Sementara aku melihat tetesan darah berceceran di sepanjang lantai rumah sakit yang kulewati. Tanganku masih mengucurkan darah merah segar menjijikkan. Satpam itu tetap mengoceh bertanya ini itu.

“Jangan ganggu Aku. Urus saja urusanmu, Satpam!” bentakku seraya menambah kecepatan melangkah. Satpam itu menghentikan langkahnya.

Kusadari orang-orang yang berada di ruangan itu melihat aneh ke arahku. Semua mata memandangku seakan Aku pria gila berbaju basah, bertampang kusut yang marah-marah tak karuan. Ah, seandainya mereka juga dapat melihat lumuran darah di tanganku. Darah-darah ini berhasil menjatuhkan reputasiku sebagai dokter yang ramah selama ini. Aku tak tahan lagi! Ini semua harus cepat dihentikan

Tanpa ketukan di pintu, tanpa salam kumasuki ruangan Dokter psikiter Rudi. Ia terlonjak kaget melihat penampilanku. Belum sempat ia mengucapkan sepatah katapun Aku langsung berkata dengan histeris.

“Anda lihatkan, tangan Saya berlumuran darah. Saya muak darah-darah ini tak pernah hilang semenjak seminggu terakhir ini. Tolong Saya.”

Kulihat dokter psikiater itu memperhatikan tanganku dengan seksama. Ia mengernyitkan dahi. Tentu ia tidak dapat melihat lumuran darah yang menetes-netes ke lantai ini. Ia lalu menyuruhku duduk. Memintaku bercerita mengenai darah ini dan apa yang kualami seminggu terakhir. Mengajukan aneka pertanyaan berkali-kali. Hingga akhirnya ia diam, menunduk seolah berpikir. Untung saja ia berhenti bertanya. Mungkin ia tahu aku muak ditanya. Bagiku selama ini dokter psikiater inilah yang paling tidak aku suka. Mereka seakan-akan mengetahui semua pemecahan masalah semua pasiennya. Padahal masalah mereka sendiri tak terselesaikan. Mereka juga tentulah membutuhkan psikiater untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri.

“Dokter Iwan. Saya pikir Anda butuh istirahat, liburan lebih baik. Anda terlalu letih. Lagi pula Saya dengar beberapa bulan terakhir ini Anda dokter bedah yang paling banyak menangani operasi. Anda dokter yang paling bersinar tahun ini. Saya kira rumah sakit ini tidak akan keberatan jika memberikan Anda cuti, seminggu saja cukup,” ujarnya panjang lebar.

Mengapa begitu sepele ia menilai? Sama sekali bukan seperti dokter. Jika hanya mengatakan aku butuh istirahat istriku juga bisa dan ia sudah mengatakan sebelumnya.

“Saya rasa bukan karena Saya lelah. Lagi pula Saya pernah lebih lelah dari ini.”
Ia tampak berpikir melihat wajahku seakan mencari suatu jawaban di sana. Lalu melihat tanganku. Lalu tertegun beberapa saat.

“Dokter, apakah pernah ada kejadian tak menyenangkan atau tak diharapkan yang terjadi akhir-akhir ini? Yang berkaitan dengan darah?” tanyanya hati-hati. Aku mencoba mencerna pertanyaannya. Kejadian tak menyenangkan? Tak diharapkan? Berkaitan dengan darah? Bukankah hampir tiap hari Aku berinteraksi dengan darah?

“Atau ada masalah dengan pekerjaan Anda, yang berkaitan dengan operasi misalnya?” tanya dokter itu lagi.

Dokter ini benar. Aku baru saja mengingatnya. Bukankah masalah ini yang sempat menghantuiku berhari-hari. Bagaimana bisa Aku tak menarik hubungannya. Sekitar sebulan yang lalu Aku telah gagal melakukan operasi pencakokan jantung. Operasi itu satu-satunya operasi yang gagal kulakukan semenjak bertahun-tahun terakhir.

“Dokter Iwan, tolong selamatkan anakku. Aku percaya padamu. Kau salah satu dokter bedah terbaik di rumah sakit ini,” ujar Ibu si pasien dengan mata berkaca-kaca padaku sebelum operasi waktu itu dimulai. Aku hanya bisa mengatakan Aku akan berusaha semaksimal mungkin. Jawaban klise yang sering para dokter ucapkan.

“Sebenarnya Aku ingin mengoperasi anakku sendiri. Tapi Aku takut akan terlalu gugup nantinya,” tutur Ayah si pasien saat itu. Ayah pasien itu, Dokter Gunawan. Salah seorang dokter bedah senior di rumah sakit ini. Aku sempat tak percaya saat ia mempercayakanku mengoperasi anaknya. Secara tidak langsung kepercayaan itu adalah bentuk pengakuan keprofesionalanku sebagai dokter bedah. Aku sempat berbangga hati, karena Dokter Gunawan terkenal tak gampang kagum atau mengakui kemampuan dokter lain. Apalagi dokter yang jam terbangnya masih rendah dibanding jam terbangnya.

Namun, rasa bangga menghilang seketika saat operasi akan berlangsung. Ketika melihat wajah si pasien, Aku seakan melihat wajah Dokter Gunawan. Konsentrasiku acap kali buyar, cemas akan melakukan kesalahan. Hingga Aku benar-benar melakukan kesalahan. Operasi gagal. Pasien tak terselamatkan.

Aku tak dapat mengatakan apa-apa ketika keluar dari ruang operasi. Aku hanya bisa menatap kosong Nyonya Gunawan yang menangis tersedu-sedu dalam pelukan Dokter Gunawan. Mata Dokter paruh baya itu kosong. Kesedihan jelas terlihat. Sampai sekarang Aku masih dapat mengingat tatapan mata Dokter Gunawan kepadaku. Hingga saat ini pula Aku tak dapat mengartikan tatapan mata itu. Tak ada marah, kesal, benci atau merelakan disitu. Berhari-hari rasa bersalah menghantui. Hingga Dokter Gunawan menemuiku.

“Saya juga dokter dan Saya tahu presentasi keberhasilan operasi anak Saya,” ujarnya waktu itu. Mulai saat itulah Aku mulai bisa tenang.

***

Telepon selulerku berbunyi anakku yang tertua meneleponku.
“Pa, Mama mau melahirkan. Sekarang dibawa ke rumah sakit tempat Papa bekerja,” Aku tersentak, teringat kembali bentakanku ke istriku tadi pagi. Ah, semoga tidak berpengaruh buruk padanya. Aku ingin sekali Ia dan bayiku tidak apa-apa. Aku sangat ingin bayi perempuan itu lahir sehat. Sudah lama Aku menantikan anak perempuan.

Kupacu langkah kaki bergegas menuju ruang bersalin. Kecemasan ketika istri akan melahirkan selalu memberikan rasa tak nyaman. Sesampai di ruang bersalin Aku langsung dipersilahkan masuk ke ruang bidan. Bidan menjelaskan sesingkatnya istriku harus melahirkan melalui operasi sesar. Aku hanya mengiyakan yang terpenting istri dan anakku selamat tak peduli bagaimana pun caranya. Aku masih dapat melihat telapak tanganku berlumuran dengan darah merah segar.

“Dokter Gunawan yang akan mengoperasi istri Anda, Dokter iwan,” ujar bidan itu.

Kudukku merinding, Dokter Gunawan telah berada di sampingku. Ia tersenyum, tatapan matanya sama dengan tatapan kala itu, saat ia memeluk istrinya yang menangisi kematian anaknya.

“Anda tak perlu cemas. Persentase keselamatan istri dan anak Anda sama dengan prsentase keberhasilan operasi anak Saya waktu itu,”

Aku terlonjak kaget, kurasakan tubuh menggigil dan tanganku tak lagi berlumuran darah. Tanganku pun tak pernah lagi berlumuran darah.

***