pada-sebuah-pantaiAdalah sebuah luka saat kata-kata perpisahaan itu kau ucapkan. Kala itu aku sama sekali tak dapat merasakan hal yang romantis walau matahari teleh berada di tempat yang paling dasar. Membiarkan cahayanya keemasan dan menerpa raut wajahku yang kurasa pastilah muram.

“Mengertilah, aku juga tak ingin hal ini terjadi,” begitulah kau berujar.

Ah, perempuan hingga saat ini aku belum juga dapat mengerti. Mengapa begitu mudah kalian mengikuti perasaan kalian daripada berpikir dengan nalar dan logika tentang konsekuensi apa yang akan timbul.

“Perpisahaan ini harus, Ger. Aku tak ingin saling menyakiti tanpa henti,” katamu lagi.

Kau terus menerus berujar. Entah apalah semacamnya yang mungkin saja kau ucapkan. Sesekali suaramu menghilang dan aku hanya mendengar kata hatiku yang berbicara. Tahukah kau, sebenarnya terlalu banyak hal yang inginku utarakan. Namun, aku hanya memilih diam. Membiarkanmu berbicara semaumu. Membiarkanmu berusaha semaksimal usaha yang kau miliki. Usaha untuk membuat aku mengerti tentang perpisahan ini. Namun entahlah, kurasa usahamu sia-sia belaka. Salahmu membiarkan benih kasih sayang itu tumbuh dengan akar yang begitu kuat.

“Ger,…….kurasa ini bukan saat yang tepat untuk kau diam,”

“Tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu,” Aku masih terdiam.

Semakin tidak mengerti sebenarnya apa yang kau mau. Toh, aku yakin berbicara apapun tak akan mengubah keputusanmu. Seperti yang kutahu hatimu keras terhadap keputusan yang kau buat.

“Tolong jangan buat aku merasa semakin bersalah,”

“Aku akan pergi bila memang kau ingin aku pergi. Tapi aku tahu kau tak ingin aku pergi, Nay,” akhirnya keluar juga kata-kata itu dari mulutku.

“Tapi satu hal sulit untukku menerima semua hal yang telah kau lakukan. Begitu mudahnya kau menyuruhku pergi. Padahal bukankah semua ini tak akan ada sebelum kau yang terlebih dahulu mendatangiku,” Matamu berair melihatku.

Memandang tepat di mataku, membuatku semakin menyadari betapa telah kau ambil sebagian hatiku. Dan sekarang kau ingin aku pergi tanpa sepotong hati itu. Ataupun dengan sepotong hatimu yang semenjak dulu ingin kusimpan sebagai ganti sepotong hatiku yang telah kau tawan. Ah, Naya mengapa harus aku yang kau inginkan pergi.

“Sekarang aku semakin sadar kau hanya memanfaatkan aku saja,” Akhirnya kata-kata itu yang kuucapkan.

Maafkan aku bukan maksudku menyakitimu dengan kata-kata yang kukatakan tadi. Bukan maksudku untuk membuat aliran air mata semakin deras di pipimu. Tapi, aku tak tahu apalagi yang dapat kuperbuat untuk membuatmu tetap di sisi. Ah, sudahlah mungkin sebaiknya aku memang pergi.

***

Aku telah meninggalkanmu di pantai itu. Saat ini langit gelap sudah, matahari telah tenggelam. Aku telah meninggalkanmu di pantai itu. Tempat dimana kita biasa bersama menyaksikan betapa romantisnya matahari tenggelam dan betapa indahnya malam, walau tanpa bintang. Kau selalu berkata.

“Aku sangat suka akan malam. Seandainya siang hanya beberapa jam saja dan sisanya adalah malam,” begitulah kau pernah berujar.

Saat ini di atas sepeda motorku ini, hatiku menangis mengingat semua tentangmu. Angin malam menerpa wajahku semakin keras ketika laju sepeda motor ini kupercepat. Aku teringat jika aku membuat laju sepeda motor ini semakin cepat kau akan berkata:

“Ger, berjanjilah kau hanya akan melaju sepeda motor ini diatas 20km/jam jika kuminta. Jika tidak tetaplah pada kecepatan itu,” aku hanya menuruti kata-katamu.

Aku hanya menggunakan kecepatan di atas 20 km/jam jika kau minta. Biasanya kau akan meminta ketika perasaanmu kelam. Aku hanya menurut, berharap akan mengurangi cahaya gelap dalam hatimu. Namun, sekarang aku yakin sepeda motorku ini akan merindukan saat kau duduk diatasnya. Hatiku semakin perih mengingat ini. Namun, kenapa terus saja kenangan ini berkelebat.

“Geri, aku senang mempunyai sahabat sepertimu. Kau membuat senyumku kembali,” begitulah kau berujar.

Saat itu sekitar dua bulan setelah kita sering bersama. Mengukur jalan dengan sepeda motorku di saat-saat yang kita inginkan dan banyak hal lagi kenangan itu. Semuanya menjadi begitu cepat. Terasa semakin cepat ketika aku merasa tak ingin kau panggil sahabat. Semakin cepat rasa sayangku tumbuh. Dan semakin cepat pula rasa ingin memilikimu timbul dalam hatiku. Kau yang membuatnya semakin merasakan keinginan itu dengan semua tangis dan kemarahanmu untuk seseorang yang telah kau berikan hatimu padanya.

“Tinggalkanlah ia kalau hanya bisa membuatmu terus menerus terluka seperti ini Naya,” ujarku suatu saat saat deburan ombak berderu di bawah langit yang hitam pekat.

Kata-kata itu membuatmu marah. Namun, entah mengapa aku semakin menjadi-jadi membakar amarahmu. Mungkin karena aku muak harus terus menerus mengobati hatimu yang dilukai olehnya. Aku hanya ingin membahagiakan hatimu dan mengobati lukamu. Aku tak ingin kau dilukai siapapun.

“Aku menyayanginya, Ger. Aku takkan meninggalkannya,” Aku bisa terima, tak mengapa bagiku jika harus terus menerus mengobati hatimu setelah dilukainya.

Dari dulu aku selalu berjanji takkan pernah meninggalkanmu bersama linangan air mata. Namun, aku tak menyangka akhirnya kau yang memintaku pergi. Kau yang ingin aku meninggalkanmu bersama linangan air mata di pipimu. Kau yang memintaku pergi dengan air mata dalam hatiku. Hatiku berdarah bersama cintaku untukmu. Membuat rasa itu semakin menjadi-jadi. Tahukah kau Naya. Jauh sebelumnya aku masih meragu adakah ini cinta? Adakah persahabatan kita telah salah kuartikan. Adakah rasa sayangku telah salah kuterjemahkan? Namun kurasa tidak. Semakin lama aku semakin yakin ini adalah cinta.

Jika ia sebuah cinta…..

ia tidak harus cantik..

namun senantiasa menarik..

jika ia sebuah cinta…..

ia tidak memaksa..

namun senantiasa berusaha..

Jika ia cinta maka ia akan sulit dimengerti karena memang bukan untuk berakhir dengan sebuah pengertian makna karena makna itu memang tidak akan pernah berakhir

Dan Naya kau adalah cinta

Namun, apalah gunanya jika kau telah menutup semua ruang. Kukira sekarang aku menyesali kata-kata cinta itu keluar dari mulutku. Kata-kata yang akhirnya membuatmu memaksaku pergi. Kata-kata yang telah membuatmu merasa mengkhianati seseorang yang padanya telah kau berikan hatimu.

“Mengapa pantas padanya kau berikan hatimu?” kata-kata itulah yang ingin kutanyakan. Namun, tak juga dapat terutara. Aku tak ingin kau semakin sering mengagung-agungkannya di hadapanku. Yang akhirnya akan membuatku semakin tersiksa.

Lalu Naya mengapa mengapa kuberikan hatiku padamu? Entahlah, aku belum tahu jawabannya hingga saat ini. Aku hanya tahu aku terbiasa melihatmu ada di sisiku bersama senyummu, tawamu, marahmu, sedihmu. Aku terbiasa dengan semua tentangmu. Aku terbiasa menyayangimu. Aku terbiasa selalu memikirkanmu. Hingga aku semakin tak ingin kehilanganmu. Sorot lampu-lampu jalan membuatku merasa semakin melankolis. Lampu-lampu kendaraan itu membuatku miris. Sekarang aku dapat merasakan kata-katamu dulu Naya.

Perpisahaan adalah jurang kesedihan yang tak berdasar. Perpisahan adalah kesedihan yang yang tak terartikan. Perpisahan adalah kenangan yang menggrogoti pikiran.

Sepeda motorku telah membawaku semakin jauh dari pantai itu, Naya. Angin malam masih menerpa wajahku. Aku meraba jok sepeda motorku. Jok di mana kau biasa duduk. Aku hanya berharap kau terduduk di sana. Ah, Naya betapa aku tak ingin kehilangan semua tentangmu. Kuhentikan motorku ke pinggir jalan. Tepat di salah satu tempat makan pecel ayam favoritmu. Lalu kenangan itu kembali berkelebat. Aku dapat mengingat kau memindahkan tulang ayammu ke dalam piringku. Kupindahkan tulang itu, kembali kau pindahkan ke piringku. Kupindahkan, kau kembalikan lagi begitulah berkali-kali. Betapa manisnya semua jahil dan candamu itu.

Aku mengingat saat kau tempelkan es krim coklatmu ke hidungku dengan jarimu. Aku mengingat saat kau menyodorkan sebungkus coklat padaku dan ternyata hanya bungkusnya saja. Lalu kau tertawa dengan gelinya. Semakin tertawa melihat rupa kesalku dan lalu aku ikut tertawa. Tawa-tawa kita…., semua tawa kita. Aku semakin gila Naya. Hatiku kau iris dengan kenangan-kenangan ini.

Aku tak ingin mengingatnya lebih banyak. Dapat kurasakan hembusan napasku memberat. Dadaku terasa sesak. Hatiku terus menerus berkata tak ada lagi kau di sisiku. Lalu secepat mungkin kupacu motorku menuju pantai itu. Pantai dimana aku telah meninggalkanmu sendiri. Pantai yang sebentar lagi akan menjadi saksi betapa aku tak ingin kehilanganmu.

Angin malam menampar-nampar wajahku. Kupacu sepeda motorku semakin kencang. Harapku kau masih berada di sana Naya. Menungguku dengan keyakinan aku akan kembali. Deburan ombak terdengar jelas. Mataku tak sabar melihatmu. Aku semakin mendekat. Tiba-tiba tanganku berhenti perlahan melemahkan genggaman gas sepeda motorku. Kurasakan napasku semakin memberat. Hatiku semakin perih dan panas. Ada luka yang semakin terkuak lebar. Kau, Naya menaiki sepeda motor itu. Sepeda motor itu membuatmu mendekat ke arahku. Hatiku luruh melihat seseorang yang padanya telah kau berikan hatimu tersenyum. Sepeda motor itu semakin mendekat. Ia tak melihatku, Naya. Baguslah, aku tak ingin ia melihatku. Begitu pun aku tak ingin kau melihatku kembali ke pantai ini. Namun, tidak.

Kau melihatku Naya. Mata dan lehermu melihat ke arahku sedang kau semakin menjauh bersama sepeda motor itu. Napasku semakin memberat. Masih merah matamu, Naya. Mata merah itu seakan berkata.

“Aku akan sangat berterima kasih bila kau meninggalkanku, Geri.”

Aku hanya terdiam. Masih terduduk di atas sepeda motorku yang tak bergerak. Hatiku kau bawa Naya. Aku takkan memintanya kembali. Dan pantai itu, berusaha menghiburku bersama deburan ombaknya.

***