cappucino-1

Dari dulu aku telah membayangkan hal ini akan terjadi. Bukannya aku mengharapkannya. Namun, karena atas dasar ketakutan yang sangatlah yang membuatku acap kali membayangkan hal ini akan terjadi. Atau bisa jadi karena ia sangat mungkin menjadi sebuah fakta, maka aku merasa ia pasti terjadi. Namun, sungguh aku tak menyangka ia akan terjadi secepat ini dan di penghujung siang hari yang begitu indah itu.

Hari itu hari yang tidak cerah. Musim penghujan telah tiba dan menghalangi kecerahan langit dengan awan-awan hitam. Namun, tidak bagiku. Hari itu sangat cerah karena semua senyum dan sikap manismu. Ah, ternyata harus kuakui juga bahwa perempuan memang sangat mudah ditaklukan dengan sikap manis.

Tidaklah berlebihan jika kukatakan waktu berjalan begitu cepat jika dilewati bersamamu. Kita tak menyadari telah melahap berjam-jam berdua. Mengobrol dan bercanda tawa seadanya namun membuat bahagia yang sulit kugambarkan. Apakah aku yang telah terlalu lama kering akan semua sikap manis, atau kau yang memang pandai menalukkan hati perempuan. Yang kutahu tak ada celah dari perbincangan dan canda tawa kita untuk jeda rasa bosan mampir dan mengungkapkan : kita telah terlalu lama berdua.

Siang itu kita tutup dengan makan siang dan secangkir cappucino. Kau Tanya padaku “Apa yang membuat cappuccino begitu disukai banyak orang?”

Aku menggeleng, bukan karena aku tak tahu atau tak mau tahu. Tapi karena aku tak sabar menunggu jawabanmu sendiri. Pertanyaan yang menghasilkan jawaban yang acap kali mempesona entah karena apa.

“Cappuccino itu secara fisik terlihat lembut dan indah. Namun, ketika diminum ia memberikan rasa yang begitu kuat dan khas. Cappuccino menarik peminum untuk ketagihan padanya dengan cara yang halus. Tidak dengan kandungan kafein yang teramat banyak hingga menyiksa pecandunya. Namun, dengan sedikit kandungan kafein yang merayu peminum untuk menimumnya lagi dan lagi. Ia manis, namun tak meninggalkan rasa pahit kopi yang kemudian membuat manisnya semakin manis,” jelasmu sambil memandang cappuccino dengan tatapan yang dalam.

Aku hanya diam memperhatikan tingkahmu. Membiarkan dirimu larut dalam kata-kata dan pemikiranmu sendiri. Kau lelaki penyairku. Dan betapa aku bangga telah mendapatkan tempat istimewa di hatimu.

“Kau seperti cappuccino untukku, Nindita,” ujarmu kemudian.

Tentu saja aku terkejut. Bukan dengan rasa takut tapi dengan rasa bahagia. Betapa kata-kata dan tatapan mesramu itu telah melambungkan aku. Lagi-lagi aku menyadari betapa mudahnya hati perempuan ditaklukan oleh kata-kata. Dan kau lelaki penyairku mempunyai ribuan kata-kata untuk itu. Sayangnya tak semua lelaki menyadari dan mempunyai kata-kata seperti itu. Tidak pula Haris. Ah, Haris. Aku teringat pertama kali aku menyebut nama itu padamu.

“Jadi namanya Haris?” tanyamu. “Lelaki yang telah memiliki hatimu selama hampir tiga tahun itu bernama Haris.”

Aku hanya diam. Mencoba bertanya-tanya pada diri sendiri adakah selama hampir tiga tahun ini hatiku selalu dimiliki oleh Haris. Sesekali kupandangi cincin pertunangan antara aku dan Haris yang melingkar sejak hampir setahun yang lalu di jari manisku. Lalu kuperhatikan raut wajahmu, matamu. Kesedihan yang teramat sangat disiratkan di sana.  Seluruh sikapmu menunjukkan betapa jujurnya semua sikapmu, wajahmu, ekspresimu. Tatapan matamu begitu jujur menunjukkan semua rasa padaku. Kejujuran bertubi-tubi selama hampir setahun ini yang membuatku akhirnya takluk dan menyatakan iya untuk cintamu padaku.

Hampir dua bulan berselang kebersamaan kita, semua kejujuranmu itu memesonaku berkali-kali. Kejujuran pernyataan cinta dan kedalaman rasa melalui senyum, tatapan mata dan kata-kata yang bukan sekedar kata-kata. Kejujuran tanpa rasa angkuh, tanpa kadar untuk menjaga keakuan dirimu. Kejujuran yang membuatku yakin kau teramat mencintai dan tergila-gila padaku. Kejujuran yang membuatku nyaman menjadi perempuan. Perempuanmu. Kejujuran yang sudah sangat lama tak dimiliki Haris. Ah, Haris. Aku bahkan tak tahu kapan terakhir kali aku benar-benar yakin Haris mencintaiku.

“Aku tak peduli dengan pria bernama Haris itu. Bisakah kita tak membicarakannya. Bisakah kita jalani saja, entah dimana pun akhirnya nanti,” katamu saat itu.

Saat itu malam ditutupi awan mendung. Katamu malam tetap indah. Namun, aku tak melihat keindahan itu. Aku malah takut hujan datang lebih awal dan aku terjebak tak bisa pulang. Ah, lelaki penyairku kadang aku tak menangkap apa yang kau katakan indah. Aku teringat cappuccino. Aku tak suka rasa cappucino. Aku tak pula melihat indah dan lembut fisiknya. Namun, tak juga tega kuucapkan padamu.

“Haris menelponku,” katamu dari seberang di sore hari yang mengakhiri siang cappuccino kita.

Aku terdiam, tak tahu harus berkata apa. Tanganku gemetaran memegang handphone. Aku menunggumu berbicara. Namun, kau terdiam sangat lama. Dalam hati aku menyesali mengapa terlalu cepat ini terjadi.

“Dia minta aku meninggalkanmu,” ujarmu lagi. “Kurasa sebelumnya ada baiknya kita bertemu.”

Aku hanya mengiyakan. Namun, selama itu pula pikiranku terganggu. Apa maksudmu dengan kata ‘sebelumnya’. Apakah kau telah memutuskan untuk pergi. Hatiku sakit memikirkannya. Namun, kucoba untuk merasakan sakitmu. Apakah kau juga merasakan sakit yang sama. Namun, mengapa begitu mudah kau memutuskan untuk pergi?

Masih lebih dari 50 menit lagi sebelum kedatanganmu ke kafe ini. Tempat kita berjanji bertemu. Aku menunggumu dengan perasaan deg-degan dan cemas yang teramat sangat. Perasaan cemas yang sempurna ketika kuputuskan untuk datang satu jam lebih awal. Mungkin kau memang benar, perempuan sangat mengagungkan rasa untuk dirinya. Hingga terkadang tak menyadari usaha itu menjadi boomerang yang menyakiti diri sendiri. Kupandangi secangkir cappuccino ini. Aku tak suka cappuccino. Namun, entah mengapa aku merasa akan semakin mengingatmu jika melihat cappuccino.

“Aku tak mengerti mengapa kau memilihku,” ujarku padamu suatu ketika.

“Aku tak pernah memilih, ia datang begitu saja. Cinta itu tak memilih, Nindita. Ia menemukan begitu saja. Dan di saat kau telah menemukan apa yang telah lama kau cari dan tunggu kau tak akan membiarkannya pergi begitu saja. Kau ingin memilikinya, selalu memilikinya. Itu hal yang sangat manusiawi.”

Manusiawi. Ah, mengapa aku tak pernah memikirkan kata yang paling sering kau ucapkan itu selama ini. Usahamu untuk membuat kita bersama, untuk menjadikanku perempuanmu menurutmu adalah hal yang sangat manusiawi. Namun, apakah yang kulakukan padamu, apakah membawamu masuk ke ruang antara aku dan Haris adalah hal yang juga manusiawi? Apakah yang kulakukan pada Haris dengan membawamu masuk ke kehidupan kami adalah hal yang manusiawi? Aku bergidik. Sudahlah aku  tak mau memikirkannya. Siapa lagi yang harus melindungi diri dari rasa sakit kalau tidak diri sendiri.

Masih sekitar 15 menit lagi menuju waktu janji pertemuan kita. Aku mulai gelisah, cemas, takut membayangkan apa yang akan kau katakan. Apakah kau benar-benar akan mengucapkan kata perpisahan. Tidak mungkin. Bukankah sudah terlalu lama kau berusaha menjadikan kita satu.

Aku gelisah, menyesali mengapa terlalu cepat aku datang ke restoran ini. Mengapa kubiarkan diriku menunggumu dengan perasaan gelisah ini. Kuperhatikan orang-orang di sekelilingku. Di sudut ruangan tak jauh dari tempatku duduk, sepasang kekasih terlihat sumringah dan sedikit malu-malu. Pastilah mereka pasangan yang baru saja menyatu. Begitu jelas cinta antara mereka berdua. Iri dan sedih hatiku melihat mereka. Bulan-bulan pertama menurutku adalah masa-masa terindah suatu hubungan. Seperti siang hari. siang hari saat matahari masih tinggi, seperti rasa yang masih tinggi. Ah, aku jadi teringat akanmu, mengapa semua ini terjadi di siang hari hubungan kita. Apakah aku bukan lagi cappucinomu lagi?

Kau terlihat tampan dengan kemeja putih itu. Namun, tak ada senyuman, tak ada raut wajah sedih dan kecewa. Mengapa raut wajah dan sikapmu sangat tidak jujur hari ini? Aku tak dapat memastikan apa yang ada dalam pikiranmu hari ini. Kau tak memberiku sinyal apa pun untuk dapat mengerti dengan apa yang sedang kau rasakan saat ini. Ada apa lelaki penyairku, bukankah seharusnya ada raut wajah dan tatapan mata kesedihan hari ini? Mengapa kau terlihat aku. Mengapa aku seolah melihat Haris di dirimu saat ini?

Kau hanya diam beberapa saat, aku pun tak tahu harus berkata apa. Kau memandangku lama, lekat tapi aku tak tahu apa arti pandanganmu. Bukan tatapan mesra  yang biasa, bukan pula tatapan dingin yang sinis. Ah, aku tak suka ekspresimu yang sangat tak jujur ini. Perasaanku ciut. Ah, mengapa belum apa-apa aku sudah merasa sangat kehilanganmu.

Kau beralih memandang cappuccinoku di atas meja.

“Mengapa memesan cappuccino di siang hari ini, Nindita?” tanyamu kemudian, tanpa lepas memandangi cappuccino yang sama sekali belum kusentuh itu.

“Apakah harus ada alasnya. Adit, cappuccino tetaplah hanya minuman,” jawabku enggan. Aku tak suka basa-basimu yang dingin ini. Kau terlihat sangat angkuh. Memberikan rasa jauh yang teramat sangat.

“Seharusnya aku tak pernah memesan cappuccino di siang hari kapan pun,” ujarmu pelan seakan kau berkata hanya untuk dirimu sendiri.

“Cappuccino tetaplah kopi, Nindita. Walaupun ia telah dicampur dengan krim, susu dan coklat. Ia tetap kopi yang menimbulkan rasa ketagihan. Walapun sedikit demi sedikit ia membawa kafein masuk ke tubuhmu. Lama kelamaan ia akan menumpuk. Kafein itu tetap akan membuat ketagihan dan ia akan menyakiti suatu ketika.”

“Kau ketagihan lagi dan lagi. Ingin meminumnya lagi dan lagi. Namun, kau lupa cappuccino itu bukan milikmu dan akhirnya kau sendiri yang sakit menahan ketagian itu,” ujarmu seraya menatap kosong ke arahku.

Aku bergidik, baru menyadari ke mana arah pembicaraanmu. Bisa-bisanya kau berkata seperti itu. Seakan aku yang telah menyakitimu. Lupakah kau siapa yang pertama kali datang?

“Mengapa semudah itu kau datang dan semudah itu pula kau memutuskan untuk pergi?” tanyaku. Kau hanya diam. “Ini tak adil. Tak kusangka kau ternyata pandai menyakiti, Adit.”

“Tersakiti? Cinta terkadang begitu egois, Nindita. Aku seharusnya bertanya-tanya siapa yang paling egois dan siapa yang sebenarnya paling tersakiti? Aku seharusnya meminta maaf pada Haris. Maafkan aku telah menyakitimu Nindita,”

Ujarmu seraya berdiri dan bersiap meninggalkanku pergi. Hatiku perih. Takkan mungkin aku membiarkan semua ini berlalu begitu saja. Aku tak ingin kau pergi? Mengapa kau tak memintaku memilih? Bukankah seharusnya kau meminta itu? Seharusnya kau bisa melihat aku tak ingin kau pergi. Seharusnya kau dapat melihat itu. Aku harus berbuat apa? Sedang kau telah menghilang di balik pintu kafe.

Kutinggalkan cappuccino itu tetap di atas meja, tanpa sedikit pun kusentuh. Semakin jauh kakiku melangkah menjauh dari kafe semakin kusadari kau telah menggoreskan luka teramat dalam. Semua kenangan itu berkelebat cepat. Senyummu, tawamu, tatapan mesramu, kata-kata manismu, sikap manismu. Waktu yang singkat untukmu membawa pergi hatiku. Aku takkan membiarkanmu pergi begitu saja. Mungkin kau hanya terlupa betapa kau telah mendamba kebersamaan kita. Mungkin kau hanya terlupa seberapa besar kau mencintai aku, hingga melahirkan begitu banyak puisi indah. Puisi-puisi yang kau berikan untukku, lelaki penyairku. Aku akan memberikannya padamu. Kau akan mengingat semuanya. Dan kau takkan lagi peduli pada Haris. Ya, aku harus memberikan puisi-puisi itu lagi padamu. Puisi-puisi di laci meja kamarku, aku harus memberikannya padamu secepat mungkin. Kafein itu pastilah belum hilang dari tubuhmu. Perih hatiku mengenang cappuccino. Entah siapa yang telah mereguk kafein terlalu banyak. Lihatlah, betapa lancangnya kau membuat air mataku mengalir sederas ini. Sungguh, aku takkan membiarkanmu pergi.

Puluhan puisi itu masih tersusun rapi. Puisi-puisi indah yang katamu bisa kau tulis karena aku. Ah, lelaki penyairku takkah bisa kau rasakan betapa berartinya semua ini untukku.

Aku tak sabar membayangkan semua puisi-puisi ini akan mengembalikan lagi dirimu padaku. Puisi-puisi ini akan mengembalikan semua sikapmu, wajahmu dan tatapan matamu yang jujur. Puisi yang akan mengembalikan cappuccino kita.

***

Harris berdiri di depan rumahku. Ah, sungguh saat yang tidak tepat. Kumasukkan puisi-puisi ke dalam tas. Puisi-puisi ini hanya milik kita.

“Aku menunggumu. Maukah kau menemaniku meminum segelas kopi?”

Aku hanya menurut. Kami tak saling berbincang di sepanjang perjalanan menuju kafe. Namun, sikap Haris  telah banyak bicara. Semua sikap jujurnya yang telah lama hilang telah kembali. Senyumnya, tatapan matanya, menyiratkan kepedihan dan kasih sayang

yang teramat dalam. Harris mengembalikan semua kenangan. Menyeretnya kembali dari ingatan yang telah terlalu lama tersimpan.

“Mengapa matu merah, Nindita? Apakah tadi kau menangis?” Aku hanya terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Harisku telah kembali, perhatian itu, senyuman itu, tatapan itu, sikap itu. Yang dulu membuatku jatuh cinta, telah kembali. Ya, Harisku telah kembali.

“Secangkir Original coffe dan secangkir cappuccino,” ujar Harris pada seorang pelayan.

“Kupesankan cappuccino untukmu, Nindita. Kafeinnya lebih sedikit, rasanya manis. Kau akan menyukainya,” Aku masih terdiam, merangkai semua kenangan lama tentang aku dan Harris di dalam pikiran. Kenangan-kenangan yang sungguh indah.

“Nindita, mengenai kita dan dia,” Harris terdiam sesaat. Terlihat mencari kata-kata yang tepat. Ah, cukup sudah kata-kata perpisahan hari ini. Aku tak ingin mendengarnya dari Harris juga.

“Aku ingin kita tetap bersama. Namun, aku tak akan memaksa, jika itu menyakitimu,” ujarnya lagi. Seraya mengambil tanganku, ingin melepas cincing pertunangan yang masih melingkar di jari manisku.

Kutarik tanganku sesegera mungkin. Tak akan ada yang hilang lagi.

“Aku akan selalu memakainya,” ujarku mantap. Harrisd tersenyum, tatapan matanya lembut. Semua sikap bahagia yang begitu jujur. Ah, harus kuakui betapa mudah perempuan luluh dengan kejujuran itu.

Seorang pelayan meletakkan secangkir cappuccino di depanku. Aku langsung teringat akanmu, Adit. Aku teringat senyummu, teringat puisi-puisimu di dalam tasku yang akan segera sampai di tanganmu lagi. Kafeinmu telah terlalu banyak mengendap dalam tubuhku. Kafein ini telah terlalu banyak mengendap di dalam tubuh-tubuh kita bertiga. Lalu bagaimana lagi caraku berdamai dengan diri sendiri? Berdamai dengan kafeinmu, kafein Harris? *** Mei 2009