IMG_0926Dari sudut pandang Septri Lediana

Untuk semua kru KLP segera kumpul di kampus. Segera !!!

Pesan singkat itu dikirimkan dari telepon seluler sutradara La Mannequin, Arif Rizki ke semua kru KLP. Pesan yang menyiratkan kegentingan yang teramat sangat. Sontak hampir semua kru yang menerima pesan singkat itu panik. Bagaimana tidak, sehari menjelang keberangkatan ke Bukittinggi untuk syuting film perdana yang digarap komunitas Lampu Pijar (KLP) berjudul “La Mannequin” tentulah membuat semua kru harap-harap cemas. Semua rencana dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan syuting film tersebut sudah siap. Semua kru, aktor dan aktris pun telah sepakat kamis (7/5) syuting akan dimulai di Bukittinggi. Tak satu hal pun yang masih belum jelas kecuali kamera yang akan digunakan untuk syuting. Kecemasan melanda, bagaimana syuting film bisa dilaksanakan tanpa peralatan yang bisa dikatakan adalah peralatan yang paling penting.

Awalnya, kru KLP yakin tak akan ada halangan dalam peminjaman kamera milik Fakultas Bahasa, Sastra, dan Seni (FBSS) Universitas Negeri Padang (UNP) itu. Semua prosedur peminjaman kamera telah diikuti dengan benar. Beberapa paraf pejabat fakultas yang dibutuhkan untuk keperluan memenuhi sistem birokrasi pun telah dipenuhi. Dalam pikiran semua kru KLP, sudah dapat diartikan kamera telah ada di tangan. Hanya tinggal diambil saja ke bagian yang berwenang dengan menunjukkan surat yang telah diparaf.

Namun, di hari yang dijadwalkan untuk mengambil kamera. Bukannya kamera yang didapatkan oleh kru. Namun, kabar yang menyurutkan semangat hingga lebih dari 50 persen.

“Kamera dipakai salah seorang dosen. Jadi peminjaman kamera ini tak dapat kami penuhi.” Begitulah kata-kata yang dituturkan seorang pegawai kepada kru KLP.

Salah seorang dosen seni rupa yang akrab dipanggil Pak Datuk telah meminjam kamera itu tanpa terlebih dahulu mengikuti prosedur peminjaman. Hanya dengan menelopon langsung di hari itu saja, Pak Datuk berhasil meminjam kamera yang secara sistem telah duluan dipinjam kru KLP yang telah menjalani sistem birorkrasi peminjaman kamera beberapa hari sebelumnya. Status dosen Pak Datuk tentulah telah berhasil meruntuhkan semua sistem birokrasi yang ada. Dosen dan pihak fakultas yang seharusnya mendukung mahasiswa untuk berkarya dan menunjukkan contoh yang tak baik dalam hal disiplin terhadap segala peraturan telah meludahi peraturan itu sendiri. Bahkan kata-kata yang menunjukan betapa otoriternya Pak Datuk sebagai dosen pun menjadi pemacu kemarahan terbesar sekaligus akhir dari usaha untuk bernegosiasi agar bisa meminjam kamera itu darinya.

“Kalau Anda masih berusaha meminjam kamera ini. Berarti anda akan berurusan dengan saya,” kira-kira itulah yang diucapkan Pak Datuk pada kru KLP yang masih berusaha dapat meminjam kamera. Kata-kata inilah yang akhirnya membuat kru sadar tak ada lagi harapan untuk dapat syuting menggunakan kamera itu. Kru hanya bisa mengurut dada, bagaimana pun juga mahasiswa tetap menghindari konflik dengan dosen.

Maka sore itu berkumpullah kru KLP di depan Kantor Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FBSS UNP, tempat biasa berkumpul. Jika biasanya di waktu-waktu berkumpul sebelumnya acap terdengar tawa dan guyonan antar kru. Namun, tidak untuk sore itu, kecemasan dan rasa marah tersirat jelas di wajah beberapa orang kru. Sedang beberapa kru lain muram atau berusaha terlihat tegar. Semangat menggebu-gebu yang sejak awal terlihat di wajah kru ketika memulai proyek film La Mannequin hampir padam. Rasa optimis film La Mannequin akan menjadi film pendek yang ‘bermutu’ mulai goyang.

Sebenarnya ada beberapa opsi yang dapat dipilih untuk tetap bisa mencapai harapan itu. Pertama, syuting diundur hingga kamera dikembalikan oleh Pak Datuk. Namun, opsi ini dipatahkan oleh fakta patung-patung manekin hanya bisa dipinjam sebelum, Senin (11/5). Sayangnya tak ada link lain untuk kemungkinan peminjaman patung manekin tanpa bayaran sepeser pun. Jika diperhitungkan waktu syuting selama 3 hari maka mau tidak mau syuting harus dilakukan mulai keesokan harinya, kamis (7/5), persis seperti rencana awal. Namun, jika rencana ini dijalankan berarti tak bisa menggunakan pinjaman kamera milik FBSS. Kru KLP bahkan tak tahu kapan Pak Datuk selesai menggunakan kamera.

Opsi kedua, syuting ditunda hingga kamera selesai digunakan Pak Datuk, sedang masalah patung manekin diatasi dengan menyewa manekin. Namun, masalah dana menjadi benturan untuk opsi ini. Sebagai komunitas yang baru terbentuk, tidak ada dalam jejeran struktur organisasi mahasiswa dan belum begitu dikenal kalangan pemberi bantuan dana, KLP masih terkendala masalah keuangan. Untuk menyewa patung manekin tentulah akan akan membutuhkan biaya cukup besar sedangkan dana yang ada di tangan dapat dikatakan pas-pasan kalau tidak mau dikatakan kurang. Alasan yang sama pula menjadi penghalang untuk opsi ketiga : menyewa kamera.

Ternyata telah berlama-lama kru KLP berkumpul di tempat itu. Senja telah beralih ke malam. Kru KLP masih menimbang-nimbang opsi mana yang terbaik untuk dipilih. Sesekali ekspresi dan kata-kata kesal untuk Pak Datuk masih dilontarkan. Tiap-tiap kru berusaha memberikan pertimbangan untuk tiap-tiap opsi. Saling berusaha menyemangati satu sama lain. Namun, rasa pesimis semakin lama semakin terasa.

“Berhasil sudah Pak Datuk menghancurkan semuanya hanya dalam waktu singkat,” begitulah kata-kata yang dilontarkan salah seorang kru.

Namun, untungnya rasa pesimis itu tak bertahan lama. Beberapa kru kembali optimis untuk tetap melanjutkan proyek ini apa adanya. Bagaimana pun kerja keras untuk menyelesaikan film ini telah setengah jalan.

“Pokoknya kita akan tetap berangkat ke Bukittinggi besok dan langsung syuting. Apa pun yang terjadi,” ujar salah seorang kru dengan semangat menggebu.
“Iya. Kita akan menyelesaikan film ini. Walau dengan kamera godok,” ujar kru lainnya tak kalah semangat. Ia mengangkat tinggi-tinggi handycam yang dipinjam dari Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Handycam yang kualitas hasil gambarnya kalah jauh dari kamera FBSS yang ada pada Pak Datuk.

Semua kru KLP pun setuju. Kesepakatan berikutnya semua kru akan berkumpul di tempat yang sama keesokan harinya, Kamis (7/5) tepat pada pukul 12.00 WIB.
Pertemuan hari itu pun berakhir. Semua kru membawa pulang kekesalan pada Pak Datuk dan sistem birokrasi yang pilih kasih.***