Waktu sudah terlalu tua saat kutemukan seulas senyuman tergantung pada sebuah jendela

Kurasa kau akan menyergap dari balik pintu tertutupi tirai kabut yang telah lama kita nantikan

Lalu aku hanya perlu mengurung senyuman itu dalam sebuah lemari kaca

Sambil mengepak semua langkahmu dalam peti tua yang tak bisa lagi dibuka

Seperti cerita cinta klise atau dongeng-dongeng kuno

Yang ditakdirkan terlupa saat kita memejamkan mata dan terbangun pada satu pagi yang tak lagi sama

Sayangnya tak sengaja sebuah cermin kutemukan di beranda

Rupa pecah seorang perempuan dengan sebingkai senyuman yang sama

Memaksaku mundur beberapa langkah

Tak bisa masuk ke pintu yang mana

Seperti seekor kepompong belum layak berganti rupa

Terkurung di beranda dengan segala cuaca yang membuat waktu kehilangan muka

Bukan kemarau

Bukan hujan

Hanya sebuah tanya yang  tak bisa keluar di salah satu ruang kosong di dalam sana

“Sudahkah senyuman pada lemari kaca dan langkah pada peti tak terbuka?”

Sebuah kursi di sudut beranda

Aku duduk berdesak-desakan dengan kenangan yang katanya telah kadaluarsa

Tanpa topang dagu, tanpa tangan menyilang di depan dada

Tanpa tatapan kosong dan kerut kening

Hanya ingatan yang terus terangkai paksa

Senyuman yang belum disimpan dalam lemari kaca

Bunyi langkah yang enggan dikemas dalam peti tua